Sampingan
0

HAND OUT

MATA KULIAH                   : Obstetri

KODE MATA KULIAH       : BD-209

BEBAN STUDI                     : 2 SKS

TOPIK                                                : Kedaruratan Obstetrik

SUB TOPIK                           :1. Kedaruratan Obstetrik

  • Pendarahan dalam kehamilan pada trimester III
  • Eklamsia
  • Partus lama/macet
  • Retensio Plasenta
  • Perdarahan post partum primer
  • Perdarahan post partum sekunder
  • Sepsis puerperalis
  • Syok obstetric
  • Distosia bahu
  • Prolaps tali pusat
  • Cepalo pelvic dipropotion
  • Persalinan macet
  • Ruptura uterus
  • Komplikasi kala III

DOSEN                                  :

OBJEKTIF PERILAKU SISWA

Setelah mempelajari Hand Out ini, Mahasiswa dapat :

  1. Menjelaskan kembali tentang kegawatdaruratan obstetric
REFERENSI
  1. Saifudin,AB. 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta, Yayasan Balai Pustaka Sarwono Prawirohadjo.
  2. Marmi, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologi, Yogyakarta. Pustaka Pelajar
  3. Vivian, dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta Salemba Medika
  4. Saifudin,AB. 2001, Ilmu Kebidanan. Jakarta, Yayasan Balai Pustaka Sarwono Prawirohadjo.

 

PENDAHULUAN

Diseluruh dunia, satu wanita meninggal setiap menit akibat komplikasi kehamilan. Di Negara Berkembang, kematian maternal memang jarang terjadi, namun diperkirakan sekitar 2/3 pelayanan maternal diberikan dengan layanan substandard dalam arti bahwa sebagian besar kasus kegawatdaruratan obstetrik merupakan kasus yang jarang terjadi sehingga ketrampilan staf junior dalam mengatasi masalah komplikasi kehamilan sangat kurang dan kasus kegawat daruratan tersebut tidak memperoleh penanganan yang baik.

Kegawat daruratan obstetric meliputi : Perdarahan yang mengancam nyawa selama kehamilan dan dekat cukup bulan meliputi perdarahan yang terjadi pada minggu awal kehamilan, perdarahan pada minggu akhir kehamilan dan mendekati cukup bulan, perdarahan pasca persalinan.

MATERI

  1. Kegawat daruratan obstetric

    • Perdarahan pada kehamilan trimester III

Perdarahan trimester III atau perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu sampai bayi dilahirkan. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak, dan kadang-kadang tapi tidak selalu disertai dengan rasa nyeri. Jenis-jenis perdarahan trimester III meliputi; plasenta previa, solusio plasenta,

  1. Plasenta Previa

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal). Normalnya adalah pada dinding depan atau dinding belakang rahim di daerah fundus uteri.

  • Etiologi

Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui atau belum jelas, bermacam-macam teori dan faktor dikemukakan sebagai etiologinya. Diantaranya yaitu; endometrium yang inferior, chorion leave yang presisten, dan korpus luteum yang beraksi lambat

Faktor-faktor etiologis

  • umur dan paritas
    • Pada primigravida, umur diatas 35 tahun lebih sering daripada umur di bawah 25 tahun
    • Lebih sering pada paritas tinggi daripada paritas rendah
    • Di Indonesia, menurut Toha, plasenta previa banyak dijumpai pada umur muda dan paritas kecil. Hal ini disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium masih belum matang (inferior)
  • hipoplasia endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda
  • endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi kuretase, dan manual plasenta
  • korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi
  • Tumor-tumor, seperti mioma uteri dan polip endometrium
  • Kadang-kadang pada malnutrisi
  • Klasifikasi

Klasifikasi tidak didasarkan pada anatomi, melainkan pada keadaan fisiologis yang berubah setiap waktu.

  • plasenta previa totalis : seluruh ostium ditutupi plasenta
  • plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium ditutupi plasenta
  • plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta
  • Tanda dan Gejala
  • Gejala yang terpenting adalah perdarahan tanpa nyeri, bisa terjadi kapan saja dan dimana saja
  • Perdarahannya berulang
  • Warna perdarahan merah segar
  • Bagian terendah janin sangat tinggi
  • Adanya anemia dan shock yang sesuai dengan keluarnya darah
  • His biasanya tidak ada
  • Denyut jantung janin ada
  • Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
  • Sering disertai kelainan letak.
  • Bahaya untuk ibu
  • perdarahan yang hebat
  • infeksi-sepsis
  • emboli udara (jarang)
  • Bahaya untuk anak
  • hypoxia
  • perdarahan dan shock
    1. Solusio Plasenta/ Abruptio Plasenta

Solusio plasenta adalah pelepasan sebagian atau seluruh plasenta yang normal implantasinya setelah minggu ke 22 kehamilan.

  • Etiologi

Sebab primer solusio plasenta belum jelas diketahui, tapi diduga bahwa hal-hal tersebut di bawah dapat menyebabkannya :

  • hipertensi essentialis atau preeklamsi
  • tali pusat yang pendek
  • trauma
  • tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
  • uterus yang sangat mengecil (hydramnion, gemelli)

Disamping itu ada pengaruh:

  • usia lanjut
  • multiparitas
  • defisiensi ac. Follicum

 

 

  • Patofisiologis

Solutio plasenta dimulai dengan perdarahan dalam decidua basalis, terjadilah hematoma dalam decidua yang mengangkat lapisan lapisan di atasnya. Hematom ini makin lama makin besar, hingga makin lama makin besar bagiam plasenta yang terlepas dan tidak berfungi. Akhirnya hematom mencapai pinggir plasenta dan mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim (perdarahan nampak). Perdarahan tidak nampak/tersembunyi jika darah berkumpul di belakang plasenta (hematom retroplacentair) atau masuk ke ruang amnion

  • Klasifikasi

Menurut derajat lepasnya plasenta

  • solusio plasenta parsialis : bila hanya sebagian saja plasenta terlepasdari tempat perlekatannya
  • solusio plasenta totalis (komplit) : bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat
  • Tanda dan Gejala
  • perdarahan yang disertai nyeri
  • Perdarahan tidak berulang
  • warna perdarahan merah coklat
  • adanya anemia dan shock yang tidak sesuai dengan keluarnya darah
  • His ada
  • bunyi jantung janin biasanya tidak ada
  • penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul
  • tidak berhubungan dengan presentasi
  • anemia dan shock, beratnya anemi dan shock tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar
  • rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang
  • fundus uteri makin lama makin naik
  • Sering ada proteinuria karena disertai toxaemia

 

 

  • Eklamsia

Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan neurologik) dan/atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia.

  • Gejala
    • Nyeri kepala di frontal
    • Nyeri epigastrium
    • Penglihatan kabur
    • Mual muntah
    • Suhu tubuh meningkat hingga 40˚C
    • Tekanan darah meningkat
    • Frekuensi nadi meningkat
  • Partus Lama/Macet

Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin AB., 2002)

Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24jam pada primigradiva, dan lebih dari 18 jam pada multigradiva. (Mochtar, 1998)

Jadi partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam, yang dimulai dari tanda-tanda persalinan.

  • Factor Penyebab

Menurut Saifudin AB, (2007: h 185) Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  1. His tidak efisien (in adekuat)
  2. Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)

Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain vertex (presentasi bokong, dahi, wajah, atau letak lintang). Malposisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik referansi. Janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan menyebabkan partus lama atau partus macet. (Saifudin AB, 2007)

  1. Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

Panggul sempit atau disporporsi sefalopelvik terjadi karena bayi terlalu besar dan pelvic kecil sehingga menyebabkan partus macet. Cara penilaian serviks yang baik adalah dengan melakukan partus percobaan (trial of labor). Kegunaan pelvimetre klinis terbatas. (Saifudin AB, 2007)

  • Faktor lain (Predisposisi)
  1. Paritas dan Interval kelahiran (Fraser  MD, 2009)
  2. Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

Pada ketuban pecah dini bisa menyebabkan persalinan berlangsung lebih lama dari keadaan normal, dan dapat menyebabkan infeksi. Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya, bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. (Wiknjosastro, 2007)

KPD pada usia kehamilan yang lebih dini biasanya disertai oleh periode laten yang lebih panjang. Pada kehamilan aterm periode laten 24 jam pada 90% pasien. ( Scott RJ, 2002)

  • Gejala klinik partus lama

Menurut chapman (2006 : h 42), penyebab partus lama adalah :

  1. Pada ibu :
    • Gelisah
    • Letih
    • Suhu badan meningkat
    • Berkeringat
    • Nadi cepat
    • Pernafasan cepat
    • Meteorismus
    • Didaerah sering dijumpai bandle ring, oedema vulva, oedema serviks, cairan ketuban berbau terdapat mekoneum
  1. Janin :
  • Djj cepat, hebat, tidak teratur bahkan negative
  • Air ketuban terdapat mekoneum kental kehijau-hijauan, cairan berbau
  • Caput succedenium yang besar
  • Moulage kepala yang hebat
  • Kematian janin dalam kandungan
  • Kematian janin intrapartal
  • Diagnosis kelainan prtus lama

Tabel diagnosis Kelainan Partus Lama

Tanda dan gejala klinis Diagnosis
Pembukaan serviks tidak membuka (kurang dari 3 cm) tidak didapatkan kontraksi uterus Belum inpartu, fase labor
pembukaan serviks tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam inpartu Prolonged laten phase
pembukaan serviks tidak melewati garis waspada partograf

Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per 10 menit dan kurang dari 40 detik

Secondary arrest of dilatation atau  arrest of descent

Secondary arrest of dilatation dan bagian terendah dengan caput terdapat moulase hebat, edema serviks, tanda rupture uteri immenens, fetal dan maternal distress

–       Kelainan presentasi (selain vertex)

 

 

Inersia uteri

 

 

Disporporsi sefalopelvik

 

Obstruksi

 

 

 

–          Malpresentasi

Pembukaan serviks lengakap, ibu ingin kala II lama (prolonged, mengedan, tetapi tidak ada kemajuan second stage)

 

  • Retensio Plasenta

Retensio Plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi waktu    setengah jam (Manuaba, 2001).

Retensio Plasenta ialah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga 30 menit atau lebih setelah bayi (Syaifudin AB, 2001).

Jadi retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir daam waktu 1 jam setelah bayi lahir.

  • Etiologi

Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.

  • Sebab fungsional
    1. His yang kurang kuat (sebab utama)
    2. Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
    3. Ukuran plasenta terlalu kecil
    4. Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut
  • Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
  1. Plasenta akreta :  vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dalam dinding rahim daripada biasa ialah sampai ke batas antara endometrium dan miometrium
  2. Plasenta inkreta :  vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim
  3. Plasenta perkreta : vili korialis menembus lapisan otot dan mencapai  serosa atau menembusnya

 

  • Perdarahan Post Partum Primer

Perdarahan post partum primer ( early post partum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. Penyebab utama post partum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.

  • Etiologi
  • Atonia Uteri

Faktor penyebab terjadinya atonia uteri adalah

  1. Umur   :           Umur yang terlalu muda atau tua
  2. Paritas :           Sering dijumpai para multipara dan grandemultipara
  3. Partus lama dan partus terlantar
  4. Obstein operatif dan narkosa
  5. Uterus terlalu tegang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion, atau janin besar
  6. Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus cauvelair pada solusio plasenta.
  7. Faktor sosio ekonomi, yaitu mamumsi
  • Sisa plasenta dan selaput ketuban
  • Jalan lahir : robekan perineum, vagina serviks, famiks dan rahim.
  • Penyakit darah: kelainan pembekuan darah misalnyaa  atau hipofibrinogenemia yang sering dijumpai pada perdarahan yang banyak
  • Solusio plasenta
  • Kematian janin yang lama dalam kandungan
  • Pre-eklamsi dan eklamsi
  • Infeksi, hepatitis dan septik syok
  • Diagnosis

Pada tiap-tiap perdarahan post partum harus dicari apa penyebabnya secara ringkas membuat diagnosis adalah seperti bagan dihalaman berikut.

Pada ibu yang bersalin penting sekali dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin : serta pengawasan tekanan darah, nadi, pernafasan ibu dan periksa juga kontraksi uterus dan perdarahan selama 1 jam.

  • Gambaran Klinis

Gambaran klinisnya berupa perdarahan terus-menerus dan keadaan pasien secara berangsur-angsur menjadi semakin jelek. Denyut nadi menjadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, pasien berubah pucar dan dingin, dan napasnya menjadi sesak, terengah-engah, berkeringat dan akhirnya coma serta meninggal dunia. Situasi yang berbahaya adalah kalau denyut nadi dan tekanan darah hanya memperlihatkan sedikit perubahan untuk beberapa saat karena adanya mekanisme kompensasi vaskuler. Kemudian fungsi kompensasi ini tidak bisa dipertahankan lagi, denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan darah tiba-tiba turun, dan pasien dalam keadaan shock. Uterus dapat terisi darah dalam jumlah yang cukup banyak sekalipun dari luar hanya terlihat sedikit. Bahaya perdarahan post partum ada dua, pertama : anemia yang berakibat perdarahan tersebut memperlemah keadaan pasien, menurunkan daya tahannya dan menjadi faktor predisposisi terjadinya infekol nifas. Kedua : Jika kehilangan darah ini tidak dihentikan, akibat akhir tentu saja kematian.

  • Perdarahan post partum sekunder

Perdarahan post partum sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama
Perdarahan nifas dinamakan sekunder adalah bila terjadi 24 jam atau lebih sesudah persalinan
Perdarahan nifas sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah lebih 24 jam post partum dan biasanya terjadi pada minggu kedua nifas

  • FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB :
    Endometritis
    2. Sub involusi
    3. Sisa plasenta
    4. Inversion uteri
    5. Pemberian estrogen untuk menekan laktasi
  • GEJALA KLINIS
    Terjadi perdarahan berkepanjangan melampaui pengeluaran lokhea normal
    2. Terjadi perdarahan cukup banyak
    3. Rasa sakit di daerah uterus
    4. Pada palpasi fundus uteri masih dapat diraba lebih besar dari seharusnya
    5. Pada VT didapatkan uterus yang membesar, lunak dan dari ostium uteri keluar darah.
  • SUB INVOLUSIO

Sub involusio adalah kemacetan atau kelambatan involusio yang disertai pemanjangan periode pengeluaran lokhea dan kadang-kadang oleh perdarahan yang banyak.proses ini dapat diikuti oleh leukhore yang berlangsung lama dan perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan. uterus akan teraba lebih besar dan lebih lunak daripada keadaan normalnya.

Gejala : Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus, kadang di persulit dengan anemia dan demam.

  • HEMATOMA NIFAS

Darah dapat mengalir ke dalam jaringan ikat di bawah kulit yang menutupi genitalia eksterna atau di bawah mukosa vagina hingga terbentuk hematoma vulva dan vagina keadaan tersebut biasanya terjadi setelah cidera pada pembuluh darah tanpa adanya laserasi jaringan supervisial , dan dapat dijumpai baik pada persalinan spontan maupun denga operasi.kadang-kadang baru terjadi kemudian,dan keadaan ini mungkin disebabkan oleh kebocoran pembuluh darah yang mengalami nekrosis akibat tekanan yang lama. Yang lebih jarang terjadi, pembuluh darah yang ruptur terletak diatas vasia pelvik dan keadaan tersebut hematoma akan ter bentuk diatasnya.kadang-kadang oleh perdarahan yang banyak.proses ini dapat diikuti oleh leukhore yang berlangsung lama dan perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan. uterus akan teraba lebih besar dan lebih lunak daripada keadaan normalnya. selama periode tertentu puerperium, sebagian besar kasus sub involusi terjadi akibat etiologi setempat ( yang sudah diketahui ) yaitu retensi fragmen plasenta dan infeksi pelvic.dan lebih lunak daripada keadaan normalnya. selama periode tertentu puerperium, sebagian besar kasus sub involusi terjadi akibat etiologi setempat ( yang sudah diketahui ) yaitu retensi fragmen plasenta dan infeksi pelvic.pembuluh darah yang ruptur terletak diatas vasia pelvik dan keadaan tersebut hematoma akan ter bentuk diatasnya.kadand-kadang oleh perdarahan yang banyak.proses ini dapat diikuti oleh leukhore.

  • HEMATOMA VULVA

Khususnya yang terbentuk dengan cepat dapat menyebabkan rasa nyeri mencekam yang sering menjadi keluhan utama. Hematoma dengan ukuran sedang dapat diserap spontan.jaringan yang melapisi gumpalan hematoma dapat menghilang karena mengalami nekrosis akibat penekanan sehingga terjadi perdarahan yamg banyak proses ini dapat diikuti oleh leukhore yang berlangsung lama dan perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan. uterus akan teraba lebih besar dan lebih lunak daripada keadaan normalnya keadaan ini mungkin disebabkan oleh kebocoran pembuluh darah yang mengalami nekrosis akibat tekanan yang lama. Yang lebih jarang terjadi, pembuluh darah yang ruptur terletak diatas vasia pelvik dan keadaan tersebut hematoma akan ter bentuk diatasnya. Hematoma vulva mudah didiagnosis dengan adanya rasa nyeri perineum yang hebat dan tumbuh inferksi yang menyeluruh.dengan ukuran yang bervariasi.jaringan yang melapisi gumpalan hematoma dapat menghilang karena mengalami nekrosis akibat penekanan sehingga terjadi perdarahan yamg banyak proses ini dapat diikuti oleh leukhore yang berlangsung lama dan perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan. uterus akan teraba lebih besar dan lebih lunak daripada keadaan normalnya.

  • SISA PLASENTA

Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan). Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim, yaitu perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Perdarahan akibat sisa plasenta jarang menimbulkan syok.
Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir. Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta, maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim.

Pengelolaan

  1. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Dalam kondisi tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
  2. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
  3. Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan.
  • DIAGNOSA PERDARAHAN POST PARTUM
    1. Untuk membuat diagnosis perdarahan postpartum perlu diperhatikan ada perdarahan yang menimbulkan hipotensi dan anemia. apabila hal ini dibiarkan berlangsung terus, pasien akan jatuh dalam keadaan syok. perdarahan postpartum tidak hanya terjadi pada mereka yang mempunyai predisposisi, tetapi pada setiap persalinan kemungkinan untuk terjadinya perdarahan postpartum selalu ada.
    2. Perdarahan yang terjadi dapat deras atau merembes. perdarahan yang deras biasanya akan segera menarik perhatian, sehingga cepat ditangani sedangkan perdarahan yang merembes karena kurang nampak sering kali tidak mendapat perhatian. Perdarahan yang bersifat merembes bila berlangsung lama akan mengakibatkan kehilangan darah yang banyak. Untuk menentukan jumlah perdarahan, maka darah yang keluar setelah uri lahir harus ditampung dan dicatat.
    3. Kadang-kadang perdarahan terjadi tidak keluar dari vagina, tetapi menumpuk di vagina dan di dalam uterus. Keadaan ini biasanya diketahui karena adanya kenaikan fundus uteri setelah uri keluar.
    4. Untuk menentukan etiologi dari perdarahan postpartum diperlukan pemeriksaan lengkap yang meliputi anamnesis, pemeriksaan umum, pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan dalam

 

  • Sepsis Puerperalis

Infeksi masa nifas atau sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia yang terjadi pada setiap saat antara pecahnya selaput ketuban atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus dimana terdapat dua atau lebih dari hal-hal berikut ini:

  1. Nyeri pelvik
  2. Demam 38,5°C atau lebih
  3. Rabas vagina yang abnormal
  4. Rabas vagina yang berbau busuk
  5. Keterlambatan dalam kecepatan penurunan uterus
  • Etiologi

Bakteri penyebab sepsis puerperalis :

 

  1. Streptococcus
  2. Stafilococcus
  3. coli
  4. Clostridium Tetanii
  5. Clostridium Welchi
  6. Clamidia dan Gonococcus

 

Bakteri Endogen

Bakteri ini secara normal hidup di vagina dan rectum tanpa menimbulkan bahaya. Bahkan jika teknik steril sudah digunkan untuk persalinan, infeksi masih dapat terjadi akibat bakteri endogen. Bakteri endogen menyebabkan infeksi jika :

  1. Bakteri ini masuk ke dalam uterus melalui jari pemeriksa atau melalui instrument pemeriksaan pelvic.
  2. Bakteri terdapat pada jaringan yang memar, robek/laserasi atau jaringan yang mati (misal setelah persalinan macet atau persalinan traumatik)
  3. Bakteri masuk sampai ke dalam uterus jika terjadi pecah ketuban yang lama.

Bakteri eksogen

Bakteri ini masuk ke dalam vagina dari luar (streptococcus, clostridium tetani, dll). Bakteri eksogen masuk ke dalam vagina:

  1. Melalui tangan yang tidak bersih dan istrumen yang tidak steril.
  2. Melalui substansi/benda sing yang masuk ke dalam vagina (misal ramuan/jamu, minyak, kain)
  3. Melalui aktivitas seksual.
  • Tanda dan gejala
    1. Demam
    2. Nyeri pelvik
    3. Nyeri tekan di uterus
    4. Lokia berbau menyengat (busuk)
    5. Terjadi keterlambatan dalam penurunan ukuran uterus
    6. Pada laserasi/luka episiotomi terasa nyeri, bengkak, mengeluarkan cairan nanah.
  • Faktor resiko pada sepsis puerperalis :
    1. Anemia/kurang gizi
    2. Hygiene yang buruk
    3. Teknik aseptic yang buruk
    4. Manipulasi yang sangat banyak pada jalan lahir
    5. Adanya jaringan mati pada jalan lahir
    6. Insersi tangan, instrument, atau pembalut/tampon yang tidak steril
    7. Ketuban pecah lama
    8. Pemeriksaan vagina yang sering
    9. Kelahiran melalui SC dan tindakan operasi lainnya
    10. Laserasi vagina atau laserasi servik yang tidak diperbaiki
    11. PMS yang diderita
    12. Haemoraghi post partum
    13. Tidak diimunisasi terhadap tetanus
    14. Diabetes mellitus
  • Faktor-faktor resiko di masyarakat :
    1. Tidak adanya transportasi dan sarana lain
    2. Jarak rumah ibu yang jauh ke fasilitas kesehatan
    3. Faktor-faktor yang memperlambat pencarian perawatan kesehatan, status kesehatan wanita yang rendah.
    4. Kurangnya pengetahuan tentang tanda-tanda gejala sepsis puerperalis
  • Faktor resiko di pelayanan kesehatan :
    1. Pemantauan suhu badan yang tidak adekuat setelah persalinan lama dan kelahiran
    2. Tidak adanya sepsis selama persalinan
    3. Pemeriksaan bakteriologis yang tidak adekuat pada ibu yang mengalami sepsis puerperalis
    4. Kehabisan persediaan darah untuk transfuse
    5. Penatalaksanaan yang tidak adekuat dengan antibiotic yang tepat atau intervensi operatif selanjutnya
    6. Ketidaktersediaan antibiotic yang tepat

 

  • Syok Obstetrik

Syok obstetri adalah keadaan syok pada kasus obstetri yang kedalamannya tidak sesuai dengan perdarahan yang terjadi. Dapat dikatakan bahwa syok yang terjadi karena kombinasi:

Syok adalah ketidak seimbangan antara volume darah yang beredar dan ketersediaan sistem vascular bed sehingga menyebabkan terjadinya:

  1. Penurunan atau pengurangan perfusi jaringan atau organ.
  2. Hipoksia sel.
  3. Perubahan metabolisme aerob menjadi anaerob.

Dengan demikian, dapat terjadi kompensasi peningkatan detak jantung akibat menurunnya tekanan darah menuju jaringan.

Jika ketidakseimbangan tersebut terus berlangsung, akan terjadi:

  1. Semakin menurunnya aliran 02 dan nutrisi menuju jaringan.
  2. Ketidakmampuan sistem sirkulasi unruk mengangkut CO2 dan hasil maabolisme lainnya sehingga terjadi timbunan asam laktat dan asam piruvat di jaringan tubuh dan menyebabkan asidosis metabolik.
  3. Rendahnya aliran 02 menuju jaringan akan menimbulkan metabolisme anaerob yang akan menghasilkan produk samping:
  • Etiologi
  1. Pendarahan
  2. Abortus
  3. Infeksi berat
  4. Solusio Plasenta
  5. Luka jalan lahir
  6. Emboli air ketuban
  7. Inversio uteri
  8. Syok postular
  9. Kolaps Vasomotor pospartum
  10. Fakta predisposisi timbulnya syok
  • Patofisiologi

Tubuh manusia berespon terhadap perdarahan akut dengan cara mengaktifkan 4 sistem major fisiologi tubuh: sistem hematologi, sistem kardiovaskular, sistem renal dan sistem neuroendokrin.system hematologi berespon kepada perdarahan hebat yag terjadi secara akut dengan mengaktifkan cascade pembekuan darah dan mengkonstriksikan pembuluh darah (dengan melepaskan thromboxane A2 lokal) dan membentuk sumbatan immatur pada sumber perdarahan. Pembuluh darah yang rusak akan mendedahkan lapisan kolagennya, yang secara subsekuen akan menyebabkan deposisi fibrin dan stabilisasi dari subatan yang dibentuk. Kurang lebih 24 jam diperlukan untuk pembentukan sumbatan fibrin yang sempurna dan formasi matur.

Sistem kardiovaskular awalnya berespon kepada syok hipovolemik dengan meningkatkan denyut jantung, meninggikan kontraktilitas myocard, dan mengkonstriksikan pembuluh darah jantung. Respon ini timbul akibat peninggian pelepasan norepinefrin dan penurunan tonus vagus (yang diregulasikan oleh baroreseptor yang terdapat pada arkus karotid, arkus aorta, atrium kiri dan pembuluh darah paru. System kardiovaskular juga merespon dengan mendistribusikan darah ke otak, jantung, dan ginjal dan membawa darah dari kulit, otot, dan GI.

System urogenital (ginjal) merespon dengan stimulasi yang meningkatkan pelepasan rennin dari apparatus justaglomerular. Dari pelepasan rennin kemudian dip roses kemudian terjadi pembentukan angiotensi II yang memiliki 2 efek utama yaitu memvasokontriksikan pembuluh darah dan menstimulasi sekresi aldosterone pada kortex adrenal. Adrenal bertanggung jawab pada reabsorpsi sodium secra aktif dan konservasi air.

System neuroendokrin merespon hemoragik syok dengan meningkatkan sekresi ADH. ADH dilepaskan dari hipothalmus posterior yang merespon pada penurunan tekanan darah dan penurunan pada konsentrasi sodium. ADH secara langsung meningkatkan reabsorsi air dan garam (NaCl) pada tubulus distal. Ductus colletivus dan the loop of Henle.

Patofisiology dari hipovolemik syok lebih banyak lagi dari pada yang telah disebutkan . untuk mengexplore lebih dalam mengenai patofisiology, referensi pada bibliography bias menjadi acuan. Mekanisme yang telah dipaparkan cukup efektif untuk menjaga perfusi pada organ vital akibat kehilangan darah yang banyak. Tanpa adanya resusitasi cairan dan darah serta koreksi pada penyebab hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya gagal dan terjadi kegagalan multiple organ.

  • Tanda dan Gejala
    1. Kesadaran penderita menurun
    2. Nadi berdenyut cepat ( Lebih dari 140 */menit ) Kemudian melemah, lambat dan menghilang.
    3. Penderita merasa mual ( mau muntah )
  1. Kulit penderita dingin, lembab dan pucat.
  2. Nafas dangkal dan kadang tak teratur.
  3. Mata penderita nampak hampa, tidak bercahaya dan manik matanya/pupil ) melebar.

Adapun dari buku lain tanda – tanda terjadinya syok obstetri yaitu :

  1. Nadi cepat dan halus ( > 112 / menit )
  2. Menurunnya tekanan darah ( diastotik < 60 )
  3. Pernapasan cepat ( Respirasi > 32 / menit )
  4. Pucat ( terutama pada konjungtiva palpebra, telapak tangan, bibir )
  5. Berkeringat, gelisa, aptis / bingungan / pingsan / tidak sadar.
  6. Penanganan awal sangat penting untuk menyelamatkan jiwa pasien.
  • Mekanisme terjadinya syok
  1. Syok Hipovolemik terjadi karena volume cairan darah intravaskula berkurang dalam      jumlah yang  banyak dan dalam waktu yang singkat. Penyebab utama adalah pendarahan akut. 20% volume darah total.
  2. Syok septik sering terjadi pada orang dengan gangguan imunitas dan pada usia tua. Akibat dari reaksi tubuh melawan infeksi, bakteri mati dan mengeluarkan Endotaksin melalui mekanisme yang belum jelas mempengaruhi metabolisme sel dan merusak sel jaringan di sekitarnya. Sel yang di rusak ini mengeluarkan enzim usosom dan Histamin. Enzim usosom masuk peredaran darah sampai ke jaringan lain dan menyebabkan kerusakan sel lebih banyak lagi serta sebagai pemicu dikeluarkannya Bradikinin. Bradikinin dan Histamin menyebabkan vasodilasi pembulu darah tepi secara masif dan meningkatkan permeabilitas kapler ( fase hangat syok septik ).

 

  • Faktor Resiko

Evaluasi dari semua pasien yang datang untuk perawatan obstetrik atau operasi harus termasuk riwayat medis lengkap. Sebuah pribadi atau sejarah keluarga koagulopati, atau penggunaan pribadi dari antikoagulan, harus didokumentasikan. Pemeriksaan fisik lengkap dapat mengungkapkan memar yang luas atau petechiae. Investigasi untuk menilai status koagulasi harus diperoleh dalam situasi ini dan konsultasi dari disiplin lain dipertimbangkan. Semua prosedur yang diusulkan harus dikaji dengan pasien. Risiko komplikasi termasuk perdarahan harus diuraikan dan diskusi didokumentasikan dalam chart. kondisi klinis tertentu dan manajemen bedah mereka berhubungan dengan peningkatan risiko perdarahan, seperti sebagai kehamilan ektopik, miomektomi, lepasnya plasenta, plasenta previa, dan disease. ganas Dalam beberapa situasi, mungkin tepat untuk perempuan nasihat tentang darah autologus transfusi atau hemodilusi techniques.

  • Prognosis

Jika tidak diobati, biasanya berakibat fatal. Jika diobati, hasilnya tergantung kepada penyebabnya, jarak antara timbulnya syok sampai dilakukannya pengobatan serta jenis pengobatan yang diberikan. Kemungkinan terjadinya kematian pada syok karena serangan jantung atau syok septik pada penderita usia lanjut sangat tinggi.

 

  • Distosia bahu

Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga dapat di defenisikan sebagai ketidakmampuan melahirkan bahu dengan mekanisme atau cara biasa.

  • FAKTOR RESIKO TERJADINYA DISTOSIA BAHU

Kelainan bentuk panggul, diabetes gestasional, kehamilan postmature, riwayat persalinan dengan distosia bahu dan ibu yang pendek.

  1. Maternal
    • Kelainan anatomi panggul
    • Diabetes Gestational
    • Kehamilan postmatur
    • Riwayat distosia bahu
    • Tubuh ibu pendek
  1. Fetal
  • Dugaan macrosomia
  1. Masalah persalinan
  • Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum)
  • “Protracted active phase” pada kala I persalinan
  • “Protracted” pada kala II persalinan

Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang.

  • TANDA DAN GEJALA TERJADINYA DISTOSIA BAHU
    1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal.
    2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obese.
    3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksi lateral dan traksi tidak berhasil melahirkan bahu.
  • DIAGNOSA DISTOSIA BAHU
  • Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tettap berada dekat vulva.
  • Dagu tertarik dan menekan perineum.
  • Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis.
  • KOMPLIKASI DISTOSIA BAHU
  1. Komplikasi Maternal
  • Perdarahan pasca persalinan
  • Fistula Rectovaginal
  • Simfisiolisis atau diathesis, dengan atau tanpa “transient femoral neuropathy”
  • Robekan perineum derajat III atau IV
  • Rupture Uteri

 

  1. Komplikasi Fetal
  • Brachial plexus palsy
  • Fraktura Clavicle
  • Kematian janin
  • Hipoksia janin , dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen
  • Fraktura humerus

 

  • Prolaps Tali Pusat

Prolaps tali pusat merupakan komlikasi yang jarang terjadi, kurang dari1 per 200 kelahiran, tetapi dapat mengakibatkan tingginya kematian janin. Oleh karena itu, di perlukan keputusan yang matang dan dan pengelolaan segera.

Prolaps tali pusat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

  1. Tali pusat terkemuka, bila tali pusat berada di bawah bagian terendah janin dan ketuban masih intak
  2. Tali pusat menumbung, bila tali pusat keluar melalui ketuban yangsudah pecah, ke serviks, dan turun ke vagina.
  3. Occult prolapsed, tali pusat berada di samping bagian terendah janin turun ke vagina. Tali pusat dapat teraba atau tidak, ketuban dapat pecah atau tidak
  • Prevalensi Prolaps Tali Pusat

Faktor dasar yang merupakan faktor prediposisi prolaps tali pusat adalah tidak terisinya secara penuh pintu atas panggul dan serviks oleh bagian terendah janin. Faktor- faktor etiologi tali pusat meliputi beberapa faktor yang sering berhubungan dengan ibu, janin, plasenta, tali pusat, dan iatrogenic

  1. Presentasi yang abnormal seperti letak atau letak sungsang terutama presentasi kaki
  2. Prematuritas
  3. Kehamilan ganda
  1. Polihidramnion sering dihubungkan dengan bagian terendah janin yang tidak engage
  2. Multiparitas predisposisiterjadinya malpresentasi
  1. Disproporsi janin- panggul
  2. Tumor di panggul yang menggangu masuknya bagian terendah janin
  3. Tali pusat abnormal panjang (>75 cm)
  4. Plasenta letak rendah
  5. Solusio plasenta
  6. Ketuban pecah dini
  7. Aminiotomi
  • Patofisiologi Prolaps Tali Pusat

Tekanan pada tali pusat oleh bagian terendah janin dan jalan lahir akan mengurangi atau menghilangkan sirkulasi plasenta. Bila tidak dikoreksi, komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian janin. Obstruksi yang lengkap dari tali pusat menyebabkan dengan segera berkurangnya detak jantung janin ( deselerasi varibel ). Bila obstruksinya hilang dengan cepat, detak jantung janin akan kembali normal. Akan tetapi, bila obstruksinya menetap terjadilah deselerasi yang dilanjutkan dengan hipoksia langsung terhadap miokard sehingga mengakibatkan deselerasi yang lama. Bila dibiarkan terjadi kematian janin.

Seandainya obstruksinya sebagian, akan menyebabkan akselerasi detak jantung. Penutupan vena umbilikalis mendahului penutupan arteri yang menghasilkan hipovalemi janin dan mengakibatkan akselerasi jantung janin. Gangguan aliran darah yang lama melalui tali pusat  menghasilkan asidosis respiratoir dan metabolik yang berat, berkurangnya oksigenisasi janin, bradikardia yang menetap, dan akhirnya kematian janin prolaps tali pusat tidak berpengaruh langsung pada kehamilan atau jalannya persalinan.

  • Diagnosis

Diagnosis prolaps tali pusat dapat melibatkan beberapa cara.

  1. Melihat tali pusat dari introitus vagina
  2. Teraba secara kebetulan tali pusat pada waktu pemeriksaan dalam.
  3. Auskultasi terdengar jantung janin yang irregular, sering dengan bradikardia yang jelas, terutama berhubungan dengan kontraksi uterus.
  4. Monitoring denyut jantung janin yang berkesinambungan memperlihatkan adanya deselerasi variabel.
  5. Tekanan pada bagian terendah janin oleh manipulasi eksterna terhadap pintu atas panggul menyebabkan menurunnya detak jantung secara tiba-tiba yang menandakan kompresi tali pusat.

Diagnosis dini sangat penting untuk kehidupan janin. Meskipun demikian, keterlambatan diagnosis adalah biasa. Pada setiap gawat janin harus segera dilakukan pemeriksaan dalam.

Penderita yang mempunyai resiko tinggi terjadinya prolaps tali pusat harus dipantau FHR yang berkesinambungan yang memberi peringatan dini adanya kompresi tali pusat lebih dari 80 % kasus.

  • Prognosis

Komplikasi ibu seperti laserasi jalan lahir, ruptura uteri, atonia uteri akibat anesthesia, anemia dan infeksi dapat terjadi sebagai akibat dari usaha menyelamatkan bayi. Kematian perinatal sekitar 20-30 %. Prognosis janin membaik dengan sesarea secara liberal untuk terapi  prolaps tali pusat.

Prognosis janin bergantung pada beberapa faktor berikut.

  1. Angka kematian untuk bayi prematur untuk bayi prematur dengan prolaps tali pusat hamper 4 kali lebih tinggi dari pada bayi aterm.
  2. Bila  gawat janin dibuktikan oleh detak jantung yang abnormal, adanya cairan amnion yang terwarnai oleh mekonium, atau tali pusat pulsasinya lemah, maka prognosis janin buruk.
  3. Jarak antara terjadinya prolaps dan persalinan merupakan faktor yang paling kritis untuk janin hidup.
  4. Dikenalnya segera prolaps memperbaiki kemungkinan janin hidup
  5. Angka kematian janin pada prolaps tali pusat yang letaknya sungsang atau lintang sama tingginya dengan presentasi kepala. Hal ini menghapuskan perkiraan bahwa pada kedua letak janin yang abnormal tekanan pada tali pusatnya tidak kuat.

 

  • Cepalo Pelvic Dipropotion

Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun kombinasi keduanya.

Pengertian secara obstetri adalah panggul yang satu atau lebih diameternya kurang sehingga mengganggu mekanisme persalinan normal.

  • Faktor yang mempengaruhi ukuran dan bentuk panggul

* Perkembangan: bawaan lahir atau keturunan.

* Suku bangsa.

* Nutrisi: gangguan gizi (malnutrisi)

* Faktor hormon: kelebihan androgen menyebabkan panggul jenis android.

* Metabolisme: ricketsia dan osteomalasia.

* Trauma, penyakit atau tumor tulang panggul, kaki dan tulang belakang.

Wanita dengan tinggi kurang dari 1,5 meter dicurigai panggul sempit (ukuran barat). Pada pemeriksaan kehamilan, terutama kehamilan anak pertama, kepala janin belum masuk pintu atas panggul di 3-4 minggu terakhir kehamilan. Bisa juga ditemukan perutnya seperti pendulum serta ditemukan kelainan letak bayi.

 

Pada kehamilan pertama, biasanya dilakukan pemeriksaan kapasitas rongga panggul pada usia kehamilan 38-39 minggu, baik secara klinis (dengan periksa dalam /VT) atau dengan alat seperti jangka ataupun radio diagnostik (X-ray, CT-scan atau

  • Metode Pemeriksaan

Metode Pinard

o Pasien mengosongkan kandung kemih dan rektum.

o Pasien dalam posisi semi duduk.

o Tangan kiri mendorong kepala bayi kearah bawah belakang panggul sementara jari tangan kanan di posisikan di tulang kemaluan (simfisis) untuk mendeteksi ketidak seimbangan kepala dengan jalan lahir (disproporsi).

Metode Muller – Kerr

o Metode ini lebih akurat dalam mendeteksi disproporsi kepala dengan jalan lahir.

o Pasien mengosongkan kandung kemih dan rektum.

o Posisi berbaring telentang.

o Tangan kiri mendorong kepala ke dalam panggul dan jari tangan kanan dimasukkan ke dalam vagina (VT) dan jempol kanan diletakkan di tulang kemaluan

Derajat panggul sempit ditentukan oleh ukuran/jarak antara bagian bawah tulang kemaluan (os pubis) dengan tonjolan tulang belakang (promontorium). Jarak ini dinamakan konjugata vera (garis merah pada gambar di bawah ini).

Dikatakan sempit Ringan: jika ukurannya 9-10 cm, Sempit sedang: 8-9 cm, sempit berat: 6-8 cm dan sangat sempit jika kurang dari 6 cm.

Untuk panggul sempit ringan masih bisa dilakukan persalinan percobaan sedangkan mulai sempit sedang dan seterusnya dilakukan persalinan dengan operasi cesar.

  • Persalinan Macet
  • Definisi

Persalinan macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak).

Persalinan macet adalah persalinan dengan tidak ada penurunan kepala > 1 jam untuk nulipara dan multipara. (Sarwono, 2008)

  • Etiologi

Penyebab persalinan macet diantaranya adalah:

  1. Kelainan letak janin
  2. Kelainan jalan lahir

Jalan lahir dibagi  atas bagian tulang yang terdiri atas tulang-tulang panggul dengan sendi-sendinya dan bagian lunak terdiri atas otot-otot, jaringan-jaringan dan ligamen-ligamen.  Dengan demikian distosia akibat jalan lahir dapat dibagi atas:

  1. Distosia karena kelainan panggul

Kelainan panggul dapat disebabkan oleh; gangguan pertumbuhan, penyakit tulang dan sendi (rachitis, neoplasma, fraktur, dll), penyakit kolumna vertebralis (kyphosis, scoliosis,dll), kelainan ekstremitas inferior (coxitis, fraktur, dll).  Kelainan panggul dapat menyebabkan kesempitan panggul.  Kesempitan panggul dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu;

  • Kesempitan pintu atas panggul, pintu atas panggul dikatakan sempit jika ukuran konjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Kesempitan pintu atas panggul dapat menyebabkan persalinan yang lama atau persalinan macet karena adanya gangguan pembukaan yang diakibatkan oleh ketuban pecah sebelum waktunya yang disebabkan bagian terbawah kurang menutupi pintu atas panggul sehingga ketuban sangat menonjol dalam vagina dan setelah ketuban pecah kepala tetap tidak dapat menekan cerviks karena tertahan pada pintu atas panggul.
  • Kesempitan panggul tengah, bila jumlah diameter interspinarum ditambah diameter sagitalis posterior £13,5 cm (normalnya 10,5 +5 cm =15,5 cm ). Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi  lintang tetap (transverse arrest)
  • Kesempitan pintu bawah panggul, diartikan jika distansia intertuberum £ 8 cm dan diameter transversa + diameter sagitalis posterior < 15 cm (N =11 cm+7,5 cm = 18,5 cm), hal ini dapat menyebabkan kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa. Sedangkan kesempitan panggul umum, mencakup adanya riwayat fraktur tulang panggul, poliomielitis, kifoskoliosis, wanita yang bertubuh kecil, dan dismorfik, pelvik kifosi
  1. Distosia karena kelainan jalan lahir lunak

Persalinan kadang-kadang terganggu oleh karena kelainan jalan lahir lunak (kelainan tractus genitalis).  Kelainan tersebut terdapat di vulva, vagina, cerviks uteri, dan uterus:

  • abnormalitas vulva ( atresia vulva, inflamasi vulva, tumor dekat vulva)
  • abnormalitas vagina (atresia vagina, seeptum longitudinalis vagina, striktur anuler)
  • abnormalitas serviks (atresia dan stenosis serviks, Ca serviks)
  • Kelainan letak uterus (antefleksi, retrofleksi, mioma uteri, mioma serviks)
  • Tumor ovarium
    1. kelainan keluaran his dan meneran

His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan hambatan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, jika tidak dapat diatasi dapat megakibatkan kemacetan persalinan. His yang normal dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata simetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekutan pada fundus uteri, kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh.  Baik atau tidaknya his dinilai dengan kemajuan persalinan, sifat dari his itu sendiri (frekuensinya, lamanya, kuatnya dan relaksasinya) serta besarnya caput succedaneum.

Adapun jenis-jenis kelainan his sebagai berikut:

  1. Inersia uteri

His bersifat biasa, yaitu fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian lain.  Kelainannya terletak dalam hal bahwa kontaksi berlangsung terlalu lama dapat meningkatkan morbiditas ibu dan mortalitas janin.  Keadaan ini dinamakan dengan inersia uteri primer.  Jika setelah belangsungnya his yang kuat untuk waktu yang lama dinamakan inersia uteri sekunder.  Karena dewasa ini persalinan tidak dibiarkan berlangsung lama (hingga menimbulkan kelelahan otot uterus) maka inersia uterus sekunder jarang ditemukan2.

  1. His yang terlalu kuat

His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat.  Partus yang sudah selesai kurang dari tiga jam disebut partus presipitatus.  Sifat his normal, tonus otot diluar his juga normal, kelainannya hanya terletak pada kekuatan his.  Bahaya dari partus presipitatus bagi ibu adalah perlukaan pada jalan lahir, khususnya serviks uteri, vagina dan perineum.  Sedangkan bagi bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut menglami tekanan kuat dalam waktu yang singkat.

  1. Kekuatan uterus yang tdak terkoordinasi

Disini kontraksi terus tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah, tidak adanya dominasi fundal, tidak adanya sinkronisasi antara kontraksi daripada bagian-bagiannya.  Dengan kekuatan seperti ini, maka tonus otot terus meningkat sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang terus menerus dan hipoksia janin. Macamnya adalah hipertonik lower segment, colicky uterus, lingkaran kontriksi dan distosia servikalis

 

  • Diagnosis
    1. Keadaan umum ibu
  1. Dehidrasi, panas
  2. Meteorismus, shock
  3. Anemia, oliguri.
  1. Palpasi
    1. His lemah
    2. Gerak janin tidak ada
    3. Janin mudah diraba
  2. Auskultasi
    1. Denyut jantung janin, takikardia, irreguler, negatif (jika janin sudah mati).
  3. Pemeriksaan dalam
    1. Keluar air ketuban yang keruh dan berbau bercamput dengan mekonium
    2. Bagian terendah anak sukar digerakkan, mudah didorong jika sudah terjadi rupture uteri
    3. Suhu rectal lebih tinggi 37,50
  • Komplikasi
    1. Ibu
  1. Infeksi sampai sepsis
  2. Asidosis dengan gangguan elektrolit
  3. Dehidrasi, syock, kegagalan fungsi organ-organ
  4. Robekan jalan lahir
  5. Fistula buli-buli, vagina, rahim dan rectum
  1. Janin
    1. Gawat  janin dalam rahim sampai meninggal
    2. Lahir dalam asfiksia berat sehingga dapat menimbulkan cacat otak menetap
    3. Trauma persalinan, fraktur clavicula, humerus, femur

 

  • Pencegahan
    1. Memperhatikan status gizi saat hamil, status gizi harus baik dengan demikian tenaganya saat persalinan akan bagus.
    2. Membiasakan senam hamil, karena Senam hamil diperlukan untuk melemaskan otot-otot, belajar bernafas selama persalinan, dan memperkenalkan posisi , persiapan mental menjelang persalinan.
    3. Jangan meneran  sebelum diperintahkan karena jika tidak teratur, tenaga makin berkurang, dan jalan lahir bisa membengkak. Hal ini diakibatkan karena saat meneran, terdapat cairan yang keluar di jalan lahir. Akibat lebih jauh, akan menyulitkan penjahitan jika vagina ibu mengalami pembengkakan.
    4. Rutin kontrol kehamilan agar bisa mendeteksi sedini mungkin bila ada kelainan.

 

  • Ruptura Uteri
  • Pengertian

Ruptur uterus adalah robekan pada uterus, dapat meluas ke seluruh dinding uterus dan isi uterus tumpah ke seluruh rongga abdomen (komplet), atau dapat pula ruptur hanya meluas ke endometrium dan miometrium, tetapi peritoneum di sekitar uterus tetap utuh (inkomplet).

  • Klasifikasi
    1. Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Ruptur Uteri Gravidarum: Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus.
  • Ruptur Uteri Durante Partum: Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak.
  1. Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Korpus Uteri

Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.

  • Segmen Bawah Rahim

Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.

  • Serviks Uteri

Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap.

  • Kolpoporeksis-Kolporeksis

Robekan – robekan di antara serviks dan vagina.

  1. Menurut robeknya peritoneum, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Ruptur Uteri Kompleta

Robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya (perimetrium), sehingga terdapat hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis.

  • Ruptur Uteri Inkompleta

Robekan otot rahim tetapi peritoneum tidak ikut robek. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas sampai ke ligamentum latum.

  1. Menurut etiologinya
    • Rupture uteri spontanea

Menurut etiologi dibagi menjadi :

  1. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat, misalnya pada bekas SC, miomektomi, perforasi waktu kuretase, histerorafia, pelepasan plasenta secara manual
  2. Karena peregangan yang luar biasa pada rahim, misalnya pada panggul sempit atau kelainan bentuk panggul, janin besar seperti janin penderita DM, hidrops fetalis, post maturitas dan grande multipara.
  3. Rupture uteri vioventa (traumatika), karena tindakan dan trauma lain seperti
    • ekstraksi forsef
    • Versi dan ekstraksi
    • Embriotomi
    • Versi brakston hicks
    • Sindroma tolakan (pushing sindrom)
    • Manual plasenta
    • Curetase
    • Ekspresi kisteler/cred
    • Pemberian pitosin tanpa indikasi dan pengawasan

(10)Trauma tumpul dan tajam dari luar

  1. Menurut gejala klinis:
    • Rupture uteri imminens (membakat=mengancam): penting untuk diketahui
    • Rupture uteri sebenarnya
  • Etiologi

Penyebab kejadian ruptur uteri, yakni:

  1. tindakan obstetri,
  2. ketidakseimbangan fetopelvik,
  3. letak lintang yang diabaikan
  4. kelebihan dosis obat bagi nyeri persalinan atau induksi persalinan,
  5. jaringan parut pada uterus,
  6. kecelakaan.
  • Diagnosis dan gejala klinis:
    1. Gejala rupture uteri mengancam
      1. Dalam tanya jawab dikatakan telah ditolong atau didorong oleh dukun atau bidan, partus sudah lama berlangsung.
      2. Pasien nampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri diperut
      3. Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan, bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. 4) Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya.
      4. Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged laboura), yaitu mutut kering, lidah kering dan halus badan panas (demam).
      5. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus menerus.
      6. Ligamentum rotundum teraba seperrti kawat listrik yang tegang, tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduannya.
      7. Pada waktu datangnya his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan sbr teraba tipis dan nyeri kalau ditekan.
      8. Penilaian korpus dan sbr nampak lingkaran bandl sebagai lekukan melintang yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukkan sbr yang semakin tipis dan teregang.sering lingkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih yang penuh untuk itu lakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat peregangan dan tipisnya sbr didinding belakang sehingga tidak dapat kita periksa. Misalnya terjadi pada asinklintismus posterior atau letak tulang ubun-ubun belakang.
      9. Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang keatas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih, maka pada kateterisasi ada hematuria
      10. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia).
      11. Pada pemeriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi, seperti edema portio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar.
    2. Gejala-gejala rupture uteri yang sebenarnya:
    3. Anamnesis dan inspeksi

Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang luar biasa, menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah, takut, pucat, keluar keringat dingin sampai kolaps.

  1. Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.
  2. Muntah-muntah karena rangsangan peritoneum
  3. Syok nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak teratur
  4. Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tidak begitu banyak, lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun dan menyumbat jalan lahir.
  5. Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ketungkai bawah dan dibahu.
  6. Kontraksi uterus biasanya hilang.
  7. Mula-mula terdapat defansmuskuler kemudian perut menjadi kembung dan meteoristis (paralisis khusus).
  1. Palpasi
    1. Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema subkutan
    2. Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari PAP
    3. Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada dirongga perut, maka teraba bagian-bagian janin langsung dibawah kulit perut, dan di sampingnya kadangkadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa.
    4. Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek
  2. Auskultasi

Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah rupture, apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk kerongga perut.

  1. Pemeriksaan dalam
    1. Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun kebawah, dengan mudah dapat didorong keatas, dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak
    2. Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi maka dapat diraba usus, omentum dan bagian-bagian janin
    3. Kateterisasi hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih
    4. Catatan
  2. Gejala rupture uteri incomplit tidak sehebat komplit
  3. Rupture uteri yang terjadi oleh karena cacat uterus biasanya tidak didahului oleh uteri mengancam.
  4. Sangat penting untuk diingat lakukanlah selalu eksplorasi yang teliti dan hatihati sebagai kerja tim setelah mengerjakan sesuatu operative delivery, misalnya sesudah versi ekstraksi, ekstraksi vakum atau forsef, embriotomi dan lain-lain

 

  • Komplikasi Kala III
  1. Atonia Uteri

Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali.Keadaan ini dapat terjadi apabila uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (masase) fundus uteri dan untuk mengatasinya segera lakukan kompresi bimanual internal (KBI) dan kompresi bimanual eksternal (KBE).

  1. Penyebab

Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor predisposisi (penunjang ) seperti :

  1. Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.
  2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua.
  3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek
  4. Partus lama / partus terlantar
  5. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus.
  6. Gejala Klinis:
  7. Uterus tidak berkontraksi dan lunak
  8. Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir (P3).
  9. Pencegahan

Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam. Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin.

  1. Retensio Plasenta

Retensio Plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi waktu    setengah jam (Manuaba, 2001).

Retensio Plasenta ialah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga 30 menit atau lebih setelah bayi (Syaifudin AB, 2001).

Jadi retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir daam waktu 1 jam setelah bayi lahir.

  • Etiologi

Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.

  • Sebab fungsional
    1. His yang kurang kuat (sebab utama)
    2. Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
    3. Ukuran plasenta terlalu kecil
    4. Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut
  • Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
  1. Plasenta akreta :  vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dalam dinding rahim daripada biasa ialah sampai ke batas antara endometrium dan miometrium
  2. Plasenta inkreta :  vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim
  3. Plasenta perkreta : vili korialis menembus lapisan otot dan mencapai  serosa atau menembusnya
  4. Robekan Jalan Lahir

Robekan / Perlukaan Jalan Lahir Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.

  • Perlukaan jalan lahir terdiri dari :
  1. Robekan Perineum

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika.Namun hal ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan jalan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat.

Luka perinium, dibagi atas 4 tingkatan :

Tingkat I :Robekan hanya pada selaput lender vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perinium

Tingkat II :Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis, tetapi tidak mengenai spingter ani

Tingkat III : Robekan mengenai seluruh perinium dan otot spingter ani

Tingkat IV : Robekan sampai mukosa rectum

Penyebab robekan perineum; 1. Kepala janin terlalu cepat lahir 2. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya 3. Jaringan parut pada perinium 4. Distosia bahu

 

  1. Luka pada vulva Akibat persalinan terutama pada primipara bisa timbul luka pada vulva disekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak khususnya luka dekat klitoris.

 

  1. Perlukaan vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum jarang sekali terjadi.Mungkin ditemukan sesudah persalinan biasa,tetapi lebih sering terjadi akibat ekstrasi dengan cunam,lebih-lebih apabila kepala janin harus diputar.Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan dengan speculum,perdarahan biasanya banyak namun mudah untuk diatasi dengan jahitan.

 

  1. Rupture Uteri
  • Pengertian

Ruptur uterus adalah robekan pada uterus, dapat meluas ke seluruh dinding uterus dan isi uterus tumpah ke seluruh rongga abdomen (komplet), atau dapat pula ruptur hanya meluas ke endometrium dan miometrium, tetapi peritoneum di sekitar uterus tetap utuh (inkomplet).

  • Klasifikasi
    1. Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Ruptur Uteri Gravidarum: Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus.
  • Ruptur Uteri Durante Partum: Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak.
  1. Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Korpus Uteri

Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.

  • Segmen Bawah Rahim

Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.

  • Serviks Uteri

Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap.

  • Kolpoporeksis-Kolporeksis

Robekan – robekan di antara serviks dan vagina.

  1. Menurut robeknya peritoneum, ruptur uteri dapat dibedakan:
  • Ruptur Uteri Kompleta

Robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya (perimetrium), sehingga terdapat hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis.

  • Ruptur Uteri Inkompleta

Robekan otot rahim tetapi peritoneum tidak ikut robek. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas sampai ke ligamentum latum.

  1. Menurut etiologinya
    • Rupture uteri spontanea

Menurut etiologi dibagi menjadi :

  1. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat, misalnya pada bekas SC, miomektomi, perforasi waktu kuretase, histerorafia, pelepasan plasenta secara manual
  2. Karena peregangan yang luar biasa pada rahim, misalnya pada panggul sempit atau kelainan bentuk panggul, janin besar seperti janin penderita DM, hidrops fetalis, post maturitas dan grande multipara.
  3. Rupture uteri vioventa (traumatika), karena tindakan dan trauma lain seperti
    • ekstraksi forsef
    • Versi dan ekstraksi
    • Embriotomi
    • Versi brakston hicks
    • Sindroma tolakan (pushing sindrom)
    • Manual plasenta
    • Curetase
    • Ekspresi kisteler/cred
    • Pemberian pitosin tanpa indikasi dan pengawasan

(10)Trauma tumpul dan tajam dari luar

  1. Menurut gejala klinis:
    • Rupture uteri imminens (membakat=mengancam): penting untuk diketahui
    • Rupture uteri sebenarnya
  • Etiologi

Penyebab kejadian ruptur uteri, yakni:

  1. tindakan obstetri,
  2. ketidakseimbangan fetopelvik,
  3. letak lintang yang diabaikan
  4. kelebihan dosis obat bagi nyeri persalinan atau induksi persalinan,
  5. jaringan parut pada uterus,
  6. kecelakaan.
KESIMPULAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kegawatdaruratan obstetric dapat menyebabkan kematian ibu dan janin jika tidak di tangani dengan tepat
  2. Faktanya, ada beberapa kasus yang tidak hanya mempengaruhi proses kehamlan, persalinan, maupun masa nifas
  3. Kasus tersebut akan mempengaruhi juga keadaan bayi jika dilahirkan dalam kondisi yang tidak meyakinkan
Sampingan
0

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifiasi dan diberi ijin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Kebidanan merupakan bentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (ilmu kedokteran, keperawatan, sosial, perilaku, budaya, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu manajemen).Bila kita melihat keadaan sekitar, tak jarang kita melihat keadaan seorang wanita yang sedang hamil. Tidak semua orang bisa diberikan pelayanan oleh seorang bidan. Karena setiap pemberi pelayanan kesehatan seperti bidan mempunya batas dalam melakukan tindakan. Pembahasan berikut ini adalah termasuk kedalam ruang lingkup praktik bidan.

 

  1. TUJUAN PENULISAN
  2. Tujuan Umum

Untuk memenuhi salah satu tugas wajib matakuliah Konsep Kebidanan

  1. Tujuan Khusus
  • Untuk mengetahui ruang lingkup praktek kebidanan
  • Untuk mengetahui sasaran praktek kebidanan
  • Untuk mengetahui 24 llingkup standar praktek kebidanan
  • Untuk mengetahui lahan praktek kebidanan

 

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Apa definisi ruang lingkup kebidanan?
  3. Apa saja yang termasuk ruang lingkup kebidanan?
  4. Apa saja sasaran praktek kebidanan/
  5. Apa saja 24 lingkup standar praktek kebidanan?
  6. Dimana saja lahan praktek kebidanan itu?

 

  1. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan, sistematika penulisan, metode penulisan.

Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang ruang lingkup praktek kebidanan

Bab III. Penutup, berisi kesimpulan, dan saran.

 

  1. METODE PENULISAN

Metode  yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mencari, mengumpulkan, dan mempelajari materi-materi dari buku yang berkaitan dengan ruang lingkup praktek kebidanan

 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN RUANG LINGKUP PRAKTEK KEBIDANAN

Lingkup praktek kebidanan terkait erat dengan peran, fungsi, kompetensi dan memiliki kewenangan untuk melaksanakannya.

Ruang Lingkup Praktik Kebidanan adalah batasan dari kewenangan bidan dalam menjalankan praktikan yang berkaitan dengan upaya pelayanan kebidanan dan jenis pelayanan kebidanan.

Praktek Kebidanan adalah penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan pelayanan terhadap terhadap klien dengan pendekatan manajemen kebidanan. Manajemen Kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis. Meliputi : Asuhan mandiri / otonomi pada anak wanita, remaja putri dan wanita dewasa sebelum dan selama kehamilan dan selanjutnya.

Definisi secara umum : Ruang Lingkup Praktek Kebidanan dapat diartikan sebagai luas area praktek dari suatu profesi.

Definisi secara khusus : Ruang Lingkup Praktek Kebidanan digunakan untuk menentukan apa yang boleh/tidak boleh dilakukan oleh seorang bidan.

 

  1. MACAM-MACAM RUANG LINGKUP KEBIDANAN

Ruang lingkup Praktek Kebidanan meliputi : Bayi baru lahir (BBL), bayi, balita, anak perempuan, remaja putri, wanita pranikah, wanita selama masa hamil, bersalin dan nifas, wanita pada masa interval dan wanita menopause.

  1. Lingkup pelayanan kebidanan kepada anak meliputi:

 

  1. Pemeriksaan bayi baru lahir
  2. Perawatan tali pusat
  3. Perawatan bayi
  4. Resusitasi pada bayi baru lahir
  5. Pemantauaan tumbuh kembang anak
  6. Pemberian imunisasi
  7. Pemberian penyuluhan

(KEPMENKES RI NO 900 pasal 18)

 

 

 

  1. Lingkup pelayanan kebidanan pada wanita hamil meliputi:
  2. Penyuluahan dan konseling
  3. Pemeriksaan fisik
  4. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
  5. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus imminens, hipertensi, gravidarum tingkat I, preeklampsi ringan dan anemi ringan.
  6. Pertolongan persalinan normal
  7. Pertolongan persalinan normal yang mencakup letak sungsang, partus macet kepala di dasar panggul,ketuban pecah didni tanpa infeksi,perdarahan post partum, laserasi jalan lahir, distosia karena inersia uteri primer,postterm dan preterm.
  8. Pelayanan ibu nifas normal
  9. Pelayanan ibu nifas abnormal yang meliputi retensio plasenta, renjatan dan infeksi ringan
  10. Pelayanan dan pengobatan pada klien ginekologis yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid

(KEPMENKES RI NO 900 pasal 16)

v Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana  dimaksud dalam pasal 16 berwenang untuk:

  • Memberikan imunisasi
  • Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan dan nifas
  • Mengeluarkan plasenta secara normal
  • Bimbingan senam hamil
  • Pengeluaran sisa jaringan konsepsi
  • Episiotomi
  • Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat II
  • Amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4cm
  • Pemberian infus
  • Pemberian suntikan intamuskuler uterotonika, antibiotika dan sedative
  • Kompresi bimanual
  • Versi ekstasi gemelli pada kelahiran bayi ke II dan seterusnya
  • Vacum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul
  • Pengendalian anemia
  • Meningkatkan pemeliharaan dan pengeluaran ASI
  • Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
  • Penanganan hipotermi
  • Pemberian minum dengan sonde atau pipet
  • Pemberian obat-obatan terbatas melalui lembaran permintaan obat
  • Pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian
  • Memberikan obat dan alat kontrasepsi oral, suntikan , alat kontrasepsi dalam rahim, alat kontrasepsi bawah kulit dan kondom
  • Tanpa penyulit
  • Memberikan Memberikan penyuluhan dan konseling pemakaian KB
  • Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim
  • Melakukan pencabutan alat kontrasepsi bawah kulit
  • Memberikan konseling untuk pelayanan kebidanan, KB dan kesehatan masyrakat

Ruang lingkup berubah bila: dalam keadaan darurat bidan berwenang melakukan pelayanan kebidanan selain dalam wewenangn yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa ( KEPMENKES RI N0 900 pasal 21)

 

  1. Lingkup pelayanan keluarga berencana

Pelayanan keluarga berencana bertujuan untuk mewujdkan keluarga berkualitas melalui pengaturan jumlah keluarga secara terencana. Pelayanan keluarga berencana diarahkan kepada upaya mewujudkan keluarga kecil. Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan mempunyai tugas dalam pelayanan keluarga berncana. Bidan dalam memberikan pelayanan keluarga berncana berwenang utnuk:

  1. Memberikan obat dan alat kontrasepsi oral , suntuikan dan alat kontrasepsi dalam rahi, bawah kulit dan kondom
  2. Memberikan penyuluhan atau konseling pemakaian kontrasepsi.
  3. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim
  4. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi bawah kulit tanpa penyulit
  5. Memberikan konseling umtuk pelayanan kebidanan , keluarga berencana dan kesehatan masyarakat

 

  1. Lingkup pelayanan kesehatan masyarakat

Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat berwenang untuk:

  1. Pembianaan peran serta masyarakata di bidang kesehatan ibu dan anak
  2. Memantau tumbuh kembang anak
  3. Melaksanakan pelayanan bidan komunitas
  4. Melaksanakan deteksi dini , melaksanakan pertolongsn pertam, merujuk dan memberikan penyuluhan infeksi menular seksual, penyalahgunaan NAPZA , serta penyakit lainnya.

 

  1. SASARAN PRAKTEK KEBIDANAN

Sasaran praktik kebidanan adalah individu yg termasuk dlm sasaran tsb yaitu remaja dlm masa pra-nikah, ibu hamil, ibu masa bersalin, ibu nifas, BBL dan balita, ibu dgn kebutuhan KB dan dalam masa lansia

 

  1. 24 LINGKUP STANDAR PRAKTEK KEBIDANAN

Ruang lingkup standar kebidanan meliputi 24 standar yang dikelompokkan sebagai berikut:
a) Standar Pelayanan Umum (2 standar)
b) Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)
c) Standar Pertolongna Persalinan (4 standar)
d) Standar Pelayanan Nifas (3 standar)
e) Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-neonatal (9 standar)

  1. STANDAR PELAYANAN UMUM

STANDAR 1 : PERSIAPAN UNTUK KEHIDUPAN KELUARGA SEHAT

  • Tujuan

Memberikan penyuluh kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi orang tua yang bertanggung jawab.

  • Pernyataan standar

Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala hal yag berkaitan dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum, gizi, KB dan kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan mendukung kebiasaan yang baik.

  • Hasil dari pernyataan standar

Masyarakat dan perorangan ikut serta dalam upaya mencapai kehamilan yang sehat Ibu, keluarga dan masyarakat meningkat pengetahuannya tentang fungsi alat-alat reproduksi dan bahaya kehamilan pada usia muda.

Tanda-tanda bahaya pada kehamilan diketahui oleh keluarga dan masyarakat.

  • Persyaratan
  1. Bidan bekerjasama dengan kader kesehatan dan sector terkait sesuai dengan kebutuhan
  2. Bidan didik dan terlatih dalam:
    1. Penyuluhan kesehatan
    2. Komunikasi dan keterampilan konseling dasar
    3. Siklus menstruasi, perkembangan kehamilan, metode kontrasepsi,gizi, bahaya kehamilan pada usia muda, kebersihan dan kesehatan diri, kesehatan/ kematangan seksual dan tanda bahaya pada kehamilan.
    4. Tersedianya bahan untuk penyuluhan kesehatan tentang hal-hal tersebut di atas. Penyuluhan kesehatan ini akan efektif bila pesannya jelas dan tidak membingungkan.

 

STANDAR 2 : PENCATATAN DAN PELAPORAN

  • Tujuannya:
    Mengumpulkan, mempelajari dan menggunakan data untuk pelaksanaan penyuluhan, kesinambungan pelayanan dan penilaian kinerja.

 

 

  • Pernyataan standar:

Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya dengan seksama seperti yang sesungguhnya yaitu, pencatatan semua ibu hamil di wilayah kerja, rincian peayanan yang telah diberikan sendiri oleh bidan kepada seluruh ibu hamil/ bersalin, nifas dan bayi baru lahir semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Disamping itu, bidan hendaknya mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan ibu hamil, ibu dalam proses melahirkan,ibu dalam masa nifas,dan bayi baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan gtersebut untuk menilai kinerja dan menyusun rencana kegiatan pribadi untuk meningkatkan pelayanan.

  • Hasil dari pernyataan ini:
  1. Terlaksananya pencatatan dan pelaporan yang baik
  2. Tersedia data untuk audit dan pengembangan diri.
  3. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kehamilan, kelahiran bayi dan pelayanan kebidanan.
  • Prasyarat
    1. Adanya kebijakan nasional/setempat untuk mencatat semua kelahiran dan kematian ibu dan bayi
    2. Sistem pencatatan dan pelaporan kelahiran dan kematian ibu dan bayi dilaksanakan sesuai ketentuan nasional atau setempat
    3. Bidan bekerja sama dengan kader/tokoh masyarakat dan memahami masalah kesehatan setempat.
    4. Register Kohort ibu dan Bayi, Kartu Ibu, KMS Ibu Hamil, Buku KIA, dan PWS KIA, partograf digunakan untuk pencatatan dan pelaporan pelayanan. Bidan memiliki persediaan yang cukup untuk semua dokumen yang diperlukan.
    5. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menggunakan format pencatatan tersebut diatas
    6. Pemetaan ibu hamil.
    7. Bidan memiliki semua dokumen yang diperlukan untuk mencatat jumlah kasus dan jadwal kerjanya setiap hari.
  • Hal yang harus diingat pada standar ini:
    1. Pencatatan dan pelaporan merupakan hal yang penting bagi bidan untuk mempelajari hasil kerjanya.
    2. Pencatatn dan pelaporan harus dilakukan pada saat pelaksanaanü Menunda pencatatan akan meningkatkan resiko tidak tercatatnya informasi pentig dalam pelaporan
    3. Pencatatn dan pelaporan harus mudah dibaca, cermat dan memuat tanggal, waktu dan paraf
  1. STANDAR PELAYANAN ANTENATAL

STANDAR 3 : IDENTIFIKASI IBU HAMIL

  • Tujuannya

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memerikasakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

  • Hasil dari identifikasi ini
    1. Ibu memahami tanda dan gejala kehamilan
    2. Ibu, suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan kehamilan,secara dini dan teratur, serta mengetahui tempat pemeriksaan hamil.
    3. Meningkatnya cakupan ibu hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan 16 minggu.
  • Persyaratannya antara lain

Bidan bekerjasama dengan tokoh masyarakat dan kader untuk menemukan ibu hamil dan memastikan bahwa semua ibu hamil telah memeriksakan kandungan secara dini dan teratur.

  • Prosesnya antara lain

Melakukan kunjungan rumah dan penyuluhan masyarakat secara teratur untuk menjelaskan tujuan pemeriksaan kehamilan kepada ibu hamil, suami, keluarga maupun masyarakat.

 

STANDAR 4 : PEMERIKSAAN DAN PEMANTAUAN ANTENATAL

  • Tujuaanya

Memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.

  • Pernyataan standar

Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal.

Bidan juga harus mengenal kehamilan risti/ kelsinan khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV ; memberikan pelayanan imunisasi,nasehat, dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas.

  • Hasilnya antara lain
  1. Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan
  2. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat. Deteksi dini dan komplikasi kehamilan
  3. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat mengetahui tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan
  4. Mengurus transportasi rujukan jika sewaktu-waktu terjadi kegawatdaruratan
  • Persyaratannya antara lain

Bidan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas, termasuk penggunaan KMS ibu hamil dan kartu pencatatanhasil pemeriksaan kehamilan (kartu ibu )

  • Prosesnya antara lain

Bidan ramah, sopan dan bersahabat pada setiap kunjungan
STANDAR PELAYANAN 5 : PALPASI ABDOMINAL

  • Tujuannya

Memperkirakan usia kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, penentuan letak, posisi dan bagian bawah janin.

  • Pernyataan standar :

Bidan melakukan pemeriksaan abdomen dengan seksama dan melakukan partisipasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamialn bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.

  • Hasilnya
  1. Perkiraan usia kehamilan yang lebih baik
  2. Diagnosis dini kehamilan letak, dan merujuknya sesuai kebutuhan
  3. Diagnosis dini kehamilan ganda dan kelainan lain serta merujuknya sesuai dengan kebutuhan
  • Persyaratannya
  1. Bidan telah di didik tentang prosedur palpasi abdominal yang benar
  2. Alat, misalnya meteran kain, stetoskop janin, tersedia dalam kondisi baik.
  3. Tersedia tempat pemeriksaan yang tertutup dan dapat diterima masyarakat
  4. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA , kartu ibu untuk pencatatan.
  5. Adanya sistem rujukan yang berlaku bagi ibu hamil yang memerlukan rujukan.
  6. Bidan harus melaksanakan palpasi abdominal pada setiap kunjungan antenatal.

STANDAR 6 : PENGELOLAAN ANEMIA PADA KEHAMILAN

  • Tujuan

Menemukan anemia pada kehamilan secara dini, dan melakukan tindak lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung.

  • Pernyataan standar
  1. Ada pedoman pengolaan anemia pada kehamilan
  2. Bidan mampu Mengenali dan mengelola anemia pada kehamilan
    Memberikan penyuluhan gizi untuk mencegah anemia.
    Alat untuk mengukur kadar HB yang berfungsi baik
  3. Tersedia tablet zat besi dan asam folat Obat anti malaria (di daerah endemis malaria) Obat cacing
  4. Menggunakan KMS ibu hamil/ buku KIA , kartu ibu.

 

 

  • Proses yang harus dilakukan bidan :

Memeriksa kadar HB semua ibu hamil pada kunjungan pertama dan pada minggu ke-28. HB dibawah 11gr%pada kehamilan termasuk anemia , dibawah 8% adalah anemia berat. Dan jika anemia berat terjadi, misalnya wajah pucat, cepat lelah, kuku pucat kebiruan, kelopak mata sangat pucat, segera rujuk ibu hamil untuk pemeriksaan dan perawatan selanjutnya.sarankan ibu hamil dengan anemia untuk tetap minum tablet zat besi sampai 4-6 bulan setelah persalinan.
STANDAR 7 : PENGELOLAAN DINI HIPERTENSI PADA KEHAMILAN

  • Tujuan

Mengenali dan menemukan secara dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan yang diperlukan

  • .Pernyataan standar:

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenal tanda serta gejala pre-eklampsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya

  • Hasilnya
  1. Ibu hamil dengan tanda preeklamsi mendapat perawatan yang memadai dan tepat waktu
  2. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat eklampsi
  • Persyaratannya
  1. Bidan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, pengukuran tekanan darah.
  2. Bidan mampu :
  3. Mengukur tekanan darah dengan benar , mengenali tanda-tanda preeklmpsia
  4. Mendeteksi hipertensi pada kehamilan, dan melakukan tindak lanjut sesuai dengan ketentuan.

 

 
STANDAR 8 PERSIAPAN PERSALINAN

  • Pernyataan standar:

Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan di rencanakan dengan baik.

  • Prasyarat:
  1. Semua ibu harus melakukan 2 kali kunjungan antenatal pada trimester terakhir kehamilan
  2. Adanya kebijaksanaan dan protokol nasional/setempat tentang indikasi persalinan yang harus dirujuk dan berlangsung di rumah sakit
  3. Bidan terlatih dan terampil dalam melakukan pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
  4. Peralatan penting untuk mel;akukan pemeriksaan antenatal tersedia
  5. Perlengkapan penting yang di poerlukan untuk melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman tersedia dalam keadaan DTT/steril
  6. Adanya persiapan transportasi untuk merujuk ibu hamil dengan cepatjika terjadi kegawat daruratan ibu dan janin
  7. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA kartu ibu dan partograf.
  8. Sistem rujukan yang efektif untuk ibu hamil yang mengalami komplikasi selama kehamilan.

 

  1. STANDAR PERTOLONGAN PERSALINAN

STANDAR 9 : ASUHAN PERSALINAN KALA SATU

  • Tujuan

Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi.

  • Pernyataan standar:

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.

  • Hasilnya:
  1. Ibu bersalin mendapatkan pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu bia diperlukan.
  2. Meningkatkan cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih
  3. Berkurangnya kematian/ kesakitan ibu atau bayi akibat partus lama.

 

STANDAR 10: PERSALINAN KALA DUA YANG AMAN

  • Tujuan

Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi

  • Pernyataan standar:

Menggunakmengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendekt dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.

  • Persyaratan:
  1. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ ketuban pecah
  2. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan aman.
  3. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung tangan steril
  4. Perlengkapan alat yang cukup.

 

STANDAR 11: PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III

  • Tujuan

Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendek kala 3, mencegah atoni uteri dan retensio plasenta

  • Pernyataan standar:

Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.

 

STANDAR 12: PENANGANAN KALA II DENGAN GAWAT JANIN MELALUI EPISIOTOMY

  • Tujuan

Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomi jika ada tanda-tanda gawat janin pada saat kepala janin meregangkan perineum.

  • Pernyataan standar

Bidan mengenali secara tepat tanda tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.

 

  1. STANDAR PELAYANAN MASA NIFAS
    STANDAR 13 : PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
  • Tujuan

Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi, hipokglikemia dan in feksi

  • Pernyataan standar:

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah dan menangani hipotermia.
STANDAR 14: PENANGANAN PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN

  • Tujuan

Mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersi dan aman selama kala 4 untuk memulihkan kesehata bayi, meningkatkan asuhan sayang ibu dan sayang bayi,memulai pemberian IMD

  • Pernyataan standar:

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang di perlukan.
STANDAR 15: PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS

  • Tujuan

Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan penyuluhan ASI ekslusif

  • Pernyataan standar

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, ;erawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

 

  1. STANDAR PENANGANAN KEGAWATAN OBSTETRI DAN NEONATAL

STANDAR 16: PENANGANAN PERDARAHAN DALAM KEHAMILAN PADA TRIMESTER III

  • Tujuan

Mengenali dan melakukan tindakan cepat dan tepat perdarahan dalam trimester 3 kehamilan.

  • Pernyataan standar

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.
STANDAR 17: PENANGANAN KEGAWATAN DAN EKLAMPSIA

  • Tujuan

Mengenali secara dini tanda-tanda dan gejala preeklamsi berat dan memberiakn perawatan yang tepat dan segera dalam penanganan kegawatdaruratan bila ekslampsia terjadi

 

 

  • Pernyataan standar

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklampsia mengancam, serta merujuk dan atau memberikan pertolongan pertama.
STANDAR 18: PENANGANAN KEGAWATAN PADA PARTUS LAMA

  • Tujuan

Mengetahui dengan segera dan penanganan yang tepat keadaan kegawatdaruratan pada partus lama/macet.

  • Pernyataan standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya.
STANDAR 19: PERSALINAN DENGAN PENGGUNAAN VAKUM EKSTRAKTOR

  • Tujuan

Untuk mempercepat persalinan pada keadaan tertentu dengan menggunakan vakum ekstraktor.

  • Pernyataan standar:

Bidan mengenali kapan di perlukan ekstraksi vakum, melakukannya secara benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamanannya bagi ibu dan janin / bayinya.
STANDAR 20: PENANGANAN RETENSIO PLASENTA

  • Tujuan

Mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika terjadi retensio plasenta total / persial.

  • Pernyataan standar:

Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan penanganan perdarahan, sesuai dengan kebutuhan.

 

 

STANDAR 21: PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER

  • Tujuan

Mengenali dan mengambil tindakan pertolongan kegawatdaruratan yang tepat pada ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer / atoni uteri.

  • Pernyataan standar:

Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan.
STANDAR 22: PENANGANAN PERDARAHAN POST PARTUM SEKUNDER

  • Tujuan :

Mengenali gejala dan tanda-tanda perdarahan postpartum sekunder serta melakukan penanganan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu.

  • Pernyataan standar:

Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan post partum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu, atau merujuknya.


STANDAR 23: PENANGANAN SEPSIS PUERPERALIS

  • Tujuan :

Mengenali tanda-tanda sepsis puerperalis dan mengambil tindakan yang tepat.

  • Pernyataan standar:

Bidan mampu mengamati secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya.
STANDAR 24: PENANGANAN ASFIKSIA NEONATURUM

  • Tujuan :

Mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia neonatorum, mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan kegawatdaruratan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.

 

  • Pernyataan standar:

Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan bantuan medis yang di perlukan dan memberikan perawatan lanjutan

 

  1. LAHAN PRAKTEK KEBIDANAN

Praktik pelayanan kebidanan dapat dilakukan di berbagai lokasi, sesuai denan kondisi lingkungan sekitar sehingga bidan dapat menjalankan praktik pada sarana kesehatan dan/atau praktik perorangan. Bidan dapat bertugas di rumah sakit, rumah bersalin, BPS (Bidan Praktek Swasta) yang meliputi bagian poliklinik antenatal, neonatus/anak, ginekologi, keluarga berencana, kamar bersalin, kamar bedah obgin, ruang rawat obgin dan perinatal.

 

BAB 3

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Lingkup praktek kebidanan di dasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan kewenangan bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan.

Ruang lingkup Praktek Kebidanan meliputi : Bayi baru lahir (BBL), bayi, balita, anak perempuan, remaja putri, wanita pranikah, wanita selama masa hamil, bersalin dan nifas, wanita pada masa interval dan wanita menopause.

Sasaran praktik kebidanan adalah individu yg termasuk dlm sasaran tsb yaitu remaja dlm masa pra-nikah, ibu hamil, ibu masa bersalin, ibu nifas, BBL dan balita, ibu dgn kebutuhan KB dan dalam masa lansia

Ruang lingkup standar kebidanan meliputi 24 standar yang dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Standar Pelayanan Umum (2 standar)
  2. Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)
  3. Standar Pertolongna Persalinan (4 standar)
  4. Standar Pelayanan Nifas (3 standar)
  5. Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-neonatal (9 standar)

Praktik pelayanan kebidanan dapat dilakukan di berbagai lokasi, sesuai denan kondisi lingkungan sekitar sehingga bidan dapat menjalankan praktik pada sarana kesehatan dan/atau praktik perorangan. Bidan dapat bertugas di rumah sakit, rumah bersalin, BPS (Bidan Praktek Swasta) yang meliputi bagian poliklinik antenatal, neonatus/anak, ginekologi, keluarga berencana, kamar bersalin, kamar bedah obgin, ruang rawat obgin dan perinatal.

 

  1. SARAN

Marilah kita melakukan pelayanan kebidanan dalam ruang lingkup atau sesuai dengan kewenangan kita serta pengetahuan dan keterampilan, demi memberikan pelayanan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Soepardan, Suryani. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.

Hidayat, Asri. 2009. Catatan Kuliah Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.

http://6tyawibowo.blogspot.com/2010/07/lingkup-praktek-kebidanan.html

 

 

 

 

0

Makalah ASKEB III “Upaya Memperbanyak ASI”

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar  Belakang

Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya.

Meski demikian, tidak semua ibu mau menyusui bayinya karena berbagai alasan. Misalnya takut gemuk, sibuk, payudara kendor dan sebagainya. Di lain pihak, ada juga ibu yang ingin menyusui bayinya tetapi mengalami kendala. Biasanya ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar.

Banyak hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan nutrisinya baik maka produksi yang dihasilkan juga banyak.

Namun demikian, untuk mengeluarkan ASI diperlukan hormon oksitosin yang kerjanya dipengaruhi oleh proses hisapan bayi. Semakin sering puting susu dihisap oleh bayi maka semakin banyak pula pengeluaran ASI. Hormon oksitosin sering disebut sebagai hormon kasih sayang. Sebab, kadarnya sangat dipengaruhi oleh suasana hati, rasa bahagia, rasa dicintai, rasa aman, ketenangan, relaks.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :

  1. Apa Pengertian dari ASI?
  2. Bagaimana Upaya Memperbanyak ASI
  3. Apa Faktor Yang Mempengruhi Upaya Memperbanyak ASI
  1. Tujuan

Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas ASKEB III yang berjudul ”Upaya Memperbanyak ASI”.  Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang Upaya Memperbanyak ASI.

  1. Sistematika Penulisan

Penulisan makalah ini di awali dengan kata pengantar, daftar isi,  BAB I pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah, sistematika penulisan, BAB II pembahasan tentang Upaya Memperbanyak ASI BAB III penutup yang berisi kesimpulan, saran, dan di akhiri dengan daftar pustaka.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN ASI

ASI adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi, karena ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik secara kualitas maupun kuantitas. ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal sampai usia 4-6 bulan (Khairuniyah, 2004).

Menurut Azrul Anwar (2004), ASI eksklusif sangat penting untuk peningkatan SDM kita di masa yang akan datang, terutarna dari segi kecukupan gizi sejak dini. Asi ekslusif adalah pemberian ASI selama enam bulan pertama (A. August Burns). Memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan menjamin tercapainya pengembangan potensial kecerdasan anak secara optimal. Hal ini karena selain sebagai nutrien yang ideal dengan komposisi yang tepat serta disesuaikan dengan kebutuhan bayi,

Jadi, Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya.

 

  1. UPAYA MEMPERBANYAK ASI

Banyak hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan nutrisinya baik maka produksi yang dihasilkan juga banyak.

Namun demikian, untuk mengeluarkan ASI diperlukan hormon oksitosin yang kerjanya dipengaruhi oleh proses hisapan bayi. Semakin sering puting susu dihisap oleh bayi maka semakin banyak pula pengeluaran ASI. Hormon oksitosin sering disebut sebagai hormon kasih sayang. Sebab, kadarnya sangat dipengaruhi oleh suasana hati, rasa bahagia, rasa dicintai, rasa aman, ketenangan, relaks.

 

  1. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UPAYA MEMPERBANYAK ASI
  2. Makanan

Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan cukup akan gizi dan pola makan yang teratur, maka produksi ASI akan berjalan dengan lancar.

  1. Ketenangan jiwa dan pikiran

Untuk memproduksi ASI yang baik, maka kondisi kejiwaan dan pikiran harus tenang. Keadaan psikologis ibu yang tertekan, sedih dan tegang akan menurunkan volume ASI.

  1. Penggunaan alat kontrasepsi

Penggunaan alat kontrasepsi pada ibu menyusui, perlu diperhatikan agar tidak mengurangi produksi ASI. Contoh alat kontrasepsi yang bisa digunakan adalah kondom, IUD, pil khusus menyusui ataupun suntik hormonal 3 bulanan.

  1. Perawatan payudara

Perawatan payudara bermanfaat merangsang payudara mempengaruhi hipofise untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin.

  1. Anatomis payudara

Jumlah lobus dalam payudara juga mempengaruhi produksi ASI. Selain itu, perlu diperhatikan juga bentuk anatomis papila atau puting susu ibu.

  1. Faktor fisiologi

ASI terbentuk oleh karena pengaruh dari hormon prolaktin yang menentukan produksi dan mempertahankan sekresi air susu.

  1. Pola istirahat

Faktor istirahat mempengaruhi produksi dan pengeluaran ASI. Apabila kondisi ibu terlalu capek, kurang istirahat maka ASI juga berkurang.

  1. Faktor isapan anak atau frekuensi penyusuan

Semakin sering bayi menyusu pada payudara ibu, maka produksi dan pengeluaran ASI akan semakin banyak. Akan tetapi, frekuensi penyusuan pada bayi prematur dan cukup bulan berbeda. Studi mengatakan bahwa pada produksi ASI bayi prematur akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu. Sedangkan pada bayi cukup bulan frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama 2 minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang cukup. Sehingga direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.

  1. Berat lahir bayi

Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan menghisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

  1. Umur kehamilan saat melahirkan

Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi poduksi ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir cukup bulan. Lemahnya kemampuan menghisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.

  1. Konsumsi rokok dan alkohol

Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin.

Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin.

 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya.

Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan nutrisinya baik maka produksi yang dihasilkan juga banyak.

Faktor yang mempengaruhi produksi ASI yakni :

  1. Makanan.
  2. Ketenangan jiwa dan pikiran.
  3. Penggunaan alat kontrasepsi.
  4. Perawatan payudara.
  5. Anatomis payudara.
  6. Faktor fisiologi.
  7. Pola istirahat.
  8. Faktor isapan anak atau frekuensi penyusuan.
  9. Faktor obat-obatan.
  10. Berat lahir bayi.
  11. Umur kehamilan saat melahirkan.
  12. Konsumsi rokok dan alkohol.

 

  1. SARAN

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sunarsih, Tri, dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Salemba Medika : Jakarta

http://www.lusa.web.id/upaya-memperbanyak-asi/

 

 

0

Sindroma Nefrotik (SN)

1. Pengertian
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (Ngastiyah, 1997).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001).
2. Etiologi
Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen antibodi. Umumnya etiologi dibagi menjadi :
a. Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.
b. Sindrom nefrotik sekunder Disebabkan oleh :
– Malaria kuartana atau parasit lainnya.
– Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid
– Glumerulonefritis akut atau kronik
– Trombosis vena renalis.
– Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa.
c. Sindrom nefrotik idiopatik
Tidak diketahui sebabnya atau disebut sindroma nefrotik primer. Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dgn pemeriksaan mikroskop biasa dan mikroskop elektron,
Churk dkk membaginya menjadi :
a) Kelainan minimal
Pada mikroskop elektron akan tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG pada dinding kapiler glomerulus.
b) Nefropati membranosa
Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Prognosis kurang baik.
c) Glomerulonefritis proliferatif
– Glomerulonefritis proliferatif esudatif difus. Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkanan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat.
– Dengan penebalan batang lobular. Terdapat prolefirasi sel mesangial yang tersebar dan penebalan batang lobular.
– Dengan bulan sabit ( crescent) Didapatkan proliferasi sel mesangial dan proliferasi sel epitel sampai kapsular dan viseral. Prognosis buruk.
– Glomerulonefritis membranoproliferatif Proliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta-IA rendah. Prognosis buruk.
d. Manifestasi Klinis
Gejala utama yang ditemukan adalah :
– Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak.
– Hipoalbuminemia < 3,0 g/l.
– Edema generalisata. Edema terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan edema muka, ascxites dan efusi pleura.
– Anorexia
– Kelelahan
– Nyeri abdomen
– Berat badan meningkat
– Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia.
– Hiperkoagualabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri.

e. Patofisiologi
Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal ini menyebabkan retensi garam dan air. Menurunnya tekanan osmotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia). Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng.
Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia.
f. Pemeriksaan Penunjang
1. Uji Urin
Protein urin (meningkat), Urinalisa (cast hialin dan granular, hematuria), Dipstik urin (positif untuk protein dan darah), Berat jenis urin (meningkat)
2. Uji Darah
Albumin serum (menurun), Kolesterol serum (meningkat), Hemoglobin dan hematokrit (meningkat/hemokonsentrasi), Laju endap darah (LED) (meningkat), Elektrolit serum (bervariasi dengan keadaan penytakit perorangan)
3. Uji Diagnostik
Biopsi ginjal yang tidak dilakukan secara rutin.

0

Nasofarngitis Akut

 

  1. PENGERTIAN

Nasofaringitis Akut merupakan peradangan akibat infeksi virus di saluran pernafasan atas. Nama lain dari nasofaringitis akut antara lain rhinofaringitis akut, rhinitis simpleks, selesma, coryza atau orang awam lebih sering menyebut masuk angin/common cold (CC)

Selesma (common cold) dan flu (influenza) sering disebut sebagai “self-limiting desease” karena sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.

Selesma disebabkan oleh bermacam-macam virus (diketahui lebih dari 100 virus seperti rhinovirusadenovirusrespiratory syncytial virus (RSV), coronavirus, dan lain-lain) sedangkan flu disebabkan oleh virus influenza, biasanya tipe A. Ukuran partikelnya sendiri sangat kecil dengan diameter hanya < 10 um, akan sangat mudah untuk menginfeksi. Setelah menginfeksi sel di saluran nafas, virus akan berkembangbiak dan menginfeksi sel-sel yang berdekatan, masa inkubasinya berkisar antara 18–72 jam.

Beberapa penyakit dapat diawali dengan gejala yang mirip dengan gejala flu seperti pneumonia, bronkitis, pertusis, dan lain sebagainya padahal penyebabnya berbeda dan penatalaksanaannya juga berbeda. Setiap orang pasti pernah menderita selesma atau flu,

 

  1. ETIOLOGI

Penyakit disebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda secara serologis. Agen utamanya adalah rhinovirus, yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari semua kasus cold; koronavirus menyebabkan sekitar 10%. Masa infektivitas berakhir dari beberapa jam sebelum munculnya gejala sampai 1-2 hari sesudah penyakit nampak. Streptokokus grup A adalah bakteri utama yang menyebabkan nasofaringitis akut.

Virus-virus tersebut dapat ditularkan secara kontak langsung (sentuhan) maupun tidak langsung (droplet/udara/bersin/batuk) dan menginfeksi saluran pernafasan atas, baik di hidung maupun tenggorokan. Gejala biasanya timbul satu hingga dua hari setelah terpapar virus dan berat ringannya dipengaruhi oleh tingkat daya tahan tubuh seseorang

 

  1. PATOFISIOLOGI

Rinovirus merupakan virus yang biasanya menyebabkan common cold. Virus lain diantaranya corona virus, enterovirus terutama coxsackie virus A21 dan A24, echovirus 11 dan 20, parainfluenza virus dan adenovirusis. Rhinovirus masuk saluran nafas secara droplet yang dapat ditularkan oleh oranglain yang menderita common cold. Setelah masa inkubasi 2-4 hari, pasien akan mengalami gejala-gejala seperti cairan dari hidung yang berlebih atau rinorea, bersin-bersin, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, malaise, dan terkadang adanya demam ringan.

Gejala-gejala common cold disebabkan oleh adanya kombinasi replikasi virus dan respon imun tubuh . Pada infeksi rinovirus menyebabkan 70% infeksi saluran pernapasan bagian atas, mampu membuat lepasnya lokal mediator, misalnya histamin, interleukin 6 dan 8, dan nuclear factor kappa beta. Mediator-mediator ini akan berkombinasi dengan respon imun yang menyebabkan timbulnya ciri-ciri gejala common cold.

Rhinovirus yang menyebabkan common cold mengiritasi epitelium nasal. Makrofag akan mencetuskan produksi sitokin, yang apabila berkombinasi dengan mediator akan menimbulkan gejala-gejala. Sitokin menyebabkan efek sistemik. Mediator bradikinin berperan utama menyebabkan simptom lokal seperti radang tenggorokan dan iritasi nasal. Simptom biasanya bermuka 2-5 hari setelah infeksi awal. Puncak gejala timbul pada 2-3 hari simptom onset, dapat dibedakan dengan influenza dimana memiliki simptom yang konstan dan cepat

 

 

 

  1. MANIFESTASI KLINIS

Perbedaan selesma dengan influenza

Memang antara commond cold atau selesma dan flu itu mirip sekali, yaitu bahwa mereka mempengaruhi saluran pernafasan dan memiliki gejala yang mirip, yaitu tenggorokan sakit, hidung tersumbat atau pun meler, batuk, dll. Namun secara umum, gejala selesma jauh lebih ringan daripada gejala flu. Gejala flu (influenza) bisa meliputi demam tinggi, menggigil, badan pegal-pegal, dan kelelahan. Selesma dan flu disebabkan oleh virus yang berbeda. Jika selesma disebabkan oleh virus selesma (cold virus atau rhinovirus), influenza disebabkan oleh virus Haemophylus influenzae yang memiliki berbagai type, yaitu type A, B, dan C

Berikut perbedaan antara selesma dan flu dilihat dari gejalanya, antara lain:

Commond cold / Selesma:

  • Demam: jarang
  • Sakit kepala : jarang
  • Nyeri dan pegal : ringan
  • Lemah : jarang/lemah
  • Terbaring di tempat tidur : jarang
  • Pilek : sering
  • Bersin-bersin : biasa
  • Tenggorokan sakit : biasa
  • Batuk : kadang-kadang, ringan-sedang
  • Komplikasi yang bisa terjadi : Sinus atau infeksi telinga
  • Sesak nafas dengan/ tanpa sumbatan hidung, bersin-bersin, tenggorokan gatal, hidung meler, batuk,
  • Suara serak
  • Gejala biasanya akan menghilang dalam waktu 4-10 hari, meskipun batuk dengan atau tanpa dahak
  • Seringkali berlangsung sampai minggu kedua.

Flu / Influenza:

  • Demam : tiba-tiba, seringkali demam tinggi, berakhir dalam 3-4 hari
  • Sakit kepala : sering
  • Nyeri dan pegal : biasa terjadi, dan sering sangat sakit
  • Lemah : sedang sampai berat, bisa sampai satu bulan
  • Terbaring di tempat tidur : sering, bisa sampai 5-10 hari
  • Pilek : kadang-kadang
  • Bersin-bersin : kadang-kadang
  • Tenggorokan sakit : kadang-kadang
  • Batuk : Biasa, bisa menjadi parah
  • Komplikasi yang bisa terjadi : pneumonia, gagal ginjal, gagal hati, dapat mengancam jiwa

 

  1. PENATALAKSANAAN

Tidak ada terapi spesifik. Antibiotik tidak memengaruhi perjalanan penyakit atau mengurangi insidens komplikasi bakteri. Tirah baring biasanya dianjurkan, tetapi tidak terdapat bukti bahwa cara ini memperpendek perjalanan penyakit. Asetaminofen atau ibu protein biasanya membantu dalam mengurangi iritabilitas, nyeri, dan malaise selama hari pertama dan hari kedua infeksi, tetapi penggunaan yang berlebihan harus dihindari.

Sebagian besar kegawatan adalah karena obstruksi hidung dan harus dilakukan upaya untuk melegakannya jka keadaan tersebut mengganggu pada saat tidur atau pada saat minum atau makan. Pemasukan obat-obatan melalui hidung merupakan metode efektif untuk melegakan obstruksi hidung. Pada bayi, pemasukan salin steril dapat membantu mengeluarkan fisik mukus yang berlebihan.

Tetes hidung palin baik diberikan 15-20 menit sebelum makan dan pada waktu sebelum tidur. Sementara anak pada posisi terlentang dengan leher ekstensi, 1-2 tetes dimasukkan pada setiap lubang hidung. Karena cara ini sering menimbulkan pengerutan membrana mukosa anterior saja, 1-2 ttes dapat dimasukkan 5-10 menit kemudian.

Pemasukan dekongestan hidung dengan aplikator berujung kapas tidak dianjurkan. Anak yang lebih tua dapat menggunakan semprot hidung tetapi hanya dengan pengawasan, karena aplikasi demikian cenderung digunakan berlebihan.

Obstruksi hidung sukar diobati pada bayi. Pengisapan dengan sedotan lunak kadang-kadang sangat penting untuk membersihkan saluran hidung secara adekuat untuk memungkinkan bayi muda menyusu. Drainase yang terbaik biasanya dapat dicapai dengan menempatkan bayi pada posisi menelungkup, jika hal ini tidak mengganggu pernapasan lebih lanjut.

Ada juga beberapa langkah penanganan Nasofaringitis akut yakni :

  • Usahakan untuk beristirahat dan selalu dalam keadaan hangat dan nyaman, serta diusakahan agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.
  • Jika terdapat demam atau gejala yang berat, maka penderita harus menjalani tirah baring di rumah.
  • Minum banyak cairan guna membantu mengencerkan sekret hidung sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan/dibuang.
  • Untuk meringankan nyeri atau demam dapat diberikan asetaminofen atau ibuprofen.
  • Pada penderita dengan riwayat alergi, dapat diberikan antihistamin
  • Menghirup uap atau kabut dari suatu vaporizer bisa membantu mengencerkan sekret dan mengurangi sesak di dada.
  • Mencuci rongga hidung dengan larutan garam isotonik bisa membantu mengeluarkan sekret yang kental
  • Batuk merupakan satu-satunya cara untuk membuang sekret dan debris dari saluran pernafasan. Oleh karena itu sebaiknya batuk tidak perlu diobati, kecuali jika sangat mengganggu dan menyebabkan penderita susah tidur.
  • Jika batuknya hebat, bisa diberikan obat anti batuk. Antibiotik tidak efektif untuk mengobati common cold, antibiotik hanya diberikan jika terjadi suatu infeksi bakteri.

 

0

Makalah Konjungtivitis

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar  Belakang

Mata adalah organ penglihatan. Suatu struktur yang sangat khusus dan kompleks, menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral. Mata dapat terkena berbagai kondisi diataranya bersifat primer sedang yang lain bersifat sekunder akibat kelainan pada system organ tubuh lain. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat dipertahankan.

Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, local akibat kompetisi metabolism, toksin, replikasi intraseluler/respon antigen antibody. Inflamasi dan infeksi dapat terjadi pada beberapa struktur mata dan terhitung lebih dari setengah kelainan mata. Kelainan-kelainan umum yang terjadi pada mata orang dewasa meliputi :

  1. Radang/inflamasi pada kelopak mata, konjungtiva, kornea, koroid, badan ciriary dan iris.
  2. Katarak, kekeruhan lensa.
  3. Glaucoma, peningkatan tekanan dalam bola mata (IOP).
  4. Retina robek/lepas.

Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata/mata merah hanya penyakit biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup. Padahal bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi seperti glaucoma, katarak, maupun ablasi retina.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :

  1. Apa Pengertian dari Konjungtivitis?
  2. Apa Etiologi dari Konjungtivitis?
  3. Bagaimanakah patofisiologis pada Konjungtivitis?
  4. Apa saja manifestasi klinis dari Konjungtivitis?
  5. Apa saja klasifikiasi dari Konjungtivitis?
  6. Apakah pemeriksaan penunjang dari Konjungtivitis?
  7. Bagaimna penatalaksanaanya?
  8. Bagaimana komplikai Konjungtivitis?

 

 

  1. Tujuan

Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas KDPK yang berjudul ”Konjungtivitis”.  Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang penyakit Konjungtivitis. Sehingga diharapkan kita semua terhindar dari hal tersebut dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya Konjungtivitis.

 

  1. Sistematika Penulisan

Penulisan makalah ini di awali dengan kata pengantar, daftar isi,  BAB I pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah, sistematika penulisan, BAB II pembahasan tentang konjungtivitis yang berisi tentang definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, BAB III penutup yang berisi kesimpulan, saran, dan di akhiri dengan daftar pustaka.

 

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN

Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga sering disebut mata merah. (Suzzane, 2001)

Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau mata merah atau pink eye. (Elizabeth, Corwin: 2001)

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), alergi, dan iritasi bahan-bahan kimia. (Mansjoer, Arif dkk: 2001)

Jadi Konjungtivitis adalah suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.

 

  1. ETIOLOGI

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat infeksius seperti:

  • Bakteri
  • Klamidia
  • Virus
  • Jamur
  • Parasit (oleh bahan iritatif => kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi (pada reaksi alergi).

Kebanyakan konjungtivitis bersifat bilateral. Bila hanya unilateral, penyebabnya adalah toksik atau kimia. Organisme penyebab tersering adalah stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, dan hemofilius. Adanya infeksi atau virus. Juga dapat disebabkan oleh butir-butir debu dan serbuk sari, kontak langsung dengan kosmetika yang mengandung klorin, atau benda asing yang masuk kedalam mata.

 

  1. PATOFISIOLOGI

Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar sehingga kemungkinan terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Apabila ada mikroorganisme yang dapat menembus pertahanan konjungtiva berupa tear film yang juga berfungsi untuk mmelarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan toksik melalui meatus nasi inferior maka dapat terjadi konjungtivitas.

Konjungtivitis merupakan penyakit mata eksternal yang diderita oleh masyarakat, ada yang bersifat akut atau kronis. Gejala yang muncul tergantung dari factor penyebab konjungtivitis dan factor berat ringannya penyakit yang diderita oleh pasien. Pada konjungtivitis yang akut dan ringan akan sembuh sendiri dalam waktu 2 minggu tanpa pengobatan. Namun ada juga yang berlanjut menjadi kronis, dan bila tidak mendapat penanganan yang adekuat akan menimbulkan kerusakan pada kornea mata atau komplikasi lain yang sifatnya local atau sistemik.

Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan factor lingkungan lain yang mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsure berairnya mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja memompa dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi antimikroba termasul lisozim. Adanya agen perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Sel-sel kemudian bergabung dengan fibrin dan mucus dari sel goblet, embentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.

Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hoperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. Pada hiperemi konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papilla yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensai ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan siliare berarti kornea terkena.

Karena Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar.  Pertahanan konjungtiva terutama oleh  karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian  mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior.   Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig  A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan  kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.

 

 

  1. MANIFESTASI KLINIS

Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasar ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda asing didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora (keluar air mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan menutup), tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi fibrin.

 

  1. KLASIFIKASI KONJUNGTIVITIS
    1. Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis alergi adalah salah satu dari penyakit mata eksternal yang paling sering terjadi. Bentuk konjungtivitis ini mungkin musiman atau musim-musim tertentu saja dan biasanya ada hubungannya dengan kesensitifan dengan serbuk sari, protein hewani, bulu-bulu, debu, bahan makanan tertentu, gigitan serangga, obat-obatan. Konjungtivitis alergi mungkin juga dapat terjadi setelah kontak dengan bahan kimia beracun seperti hair spray, make up, asap, atau asap rokok. Asthma, gatal-gatal karena alergi tanaman dan eksim, juga berhubungan dengan alergi konjungtivitis.

  1. Konjungtivitis Bakteri

Konjungtivitis bakteri disebut juga “Pink Eye”. Bentuk ini adalah konjungtivitis yang mudah ditularkan, yang biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus. Mungkin juga terjadi setelah sembuh dari haemophylus influenza atau neiseria gonorhe.

  1. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut

Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan.

  1. Konjungtivitis Viral

Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus (yang paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika) atau dari penyakit virus sistemik seperti mumps dan mononukleus. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.

  1. Konjungtivitis Blenore

Konjungtivitis purulen (bernanah pada bayi dan konjungtivitis gonore). Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada bayi yang baru lahir.

 

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Pemeriksaan Mata

–          Pemeriksaan tajam penglihatan

–          Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat pemeriksaan pandangan).

–          Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek epitel kornea).

–          Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak adanya kebocoran kornea).

–          Pemeriksaan oftalmoskop

–          Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda menjadi lebih besar disbanding ukuran normalnya).

  1. Therapy Medik

–          Antibiotic topical, obat tetes steroid untuk alergi (kontra indikasi pada herpes simplek virus).

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pegecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.

 

  1. PENATALAKSANAAN

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab.  Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide  (sulfacetamide  15 %) atau antibiotika  (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol  0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin  (antazidine  0,5 %,  rapazoline  0,05 %) atau kortikosteroid  (misalnya dexametazone 0,1 %).

Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut:

  1. Konjungtivitis Bakteri

Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotic tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin selama 3-5 hari. kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes mata disertai antibiotic spectrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari.

  1. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
  • Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topical dan sistemik. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam.
  • Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam.

–          Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi, medika menstosa :

  • Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.000-20.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.
  • Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
  • Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.
  • Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negative.
  1. Konjungtivitis Alergi

Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin dan menghindarkan penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan obat antihistamin atau bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen, sodium kromolin, steroid topical dosis rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan salin (gram fisiologi). Pemakaian pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan memberikan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme.

 

  1. Konjungtivitis Viral

Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian antihistamin/dekongestan topical. Kompres hangat atau dingin dapat membantu memperbaiki gejala.

  1. Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore

Berupa pemberian penisilin topical mata dibersihkan dari secret. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep kloramfenikol. Pengobatan dokter biasnay disesuaikan dengan diagnosis. Pengobatan konjungtivitis blenore :

  1. Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat tanda-tanda perbaikan.
  2. Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena bila tidak maka pemberian obat tidak akan efektif.
  3. Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin infeksi chlamdya yang banyak terjadi.

 

BAB 3

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga sering disebut mata merah. (Suzzane, 2001:1991)

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat infeksius seperti:

  • Bakteri
  • Klamidia
  • Virus
  • Jamur
  • Parasit (oleh bahan iritatif => kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi (pada reaksi alergi).

Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda asing didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora (keluar air mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan menutup), tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi fibrin.

  1. SARAN

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Capernito-Moyet, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC .

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III. Jakarta: Media Aeuscualpius.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Ed. III. Jakarta: Media Aeuscualpius.

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit : EGC, Jakarta.

 

0

LAPORAN PENDAHULUAN DEMAM (Febris)

A. DEFINISI

Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal.
Febris/ demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkardian yang normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior (Isselbacher, 1999).
Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 380 C atau lebih.Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,80C.Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari 400C disebut demam tinggi (hiperpireksia)(Julia, 2000).
Demam adalah kenaikan suhu tubuh karena adanya perubahan pusat termoregulasi hipotalamus (Berhman, 1999). Seseorang mengalami demam bila suhu tubuhnya diatas 37,8ºC (suhu oral atau aksila) atau suhu rektal (Donna L. Wong, 2003).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

B. ETIOLOGI
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun penyakit lain. (Julia, 2000).Menurut Guyton (1990) demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi.
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik.
Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam.
Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya.

C. PATOFISIOLOGI
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan set point, tetapi ada peningkatan suhu tubuh karena pembentukan panas berlebihan tetapi tidak disertai peningkatan set point(Julia, 2000).Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak terhadap infeksi atau zatasing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari dalam tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing (non infeksi).Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas.Inilah yang menimbulkan demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akanmerangsang aktivitas “tentara” tubuh (sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam pembentukan antibodi atau sistem kekebalan tubuh. (Sinarty, 2003).
Sedangkan sifat-sifat demam dapatberupa menggigil atau krisis/flush.
Menggigil.Bila pengaturan termostat dengan mendadak diubah dari tingkat normal ke nilai yang lebih tinggi dari normal sebagai akibat dari kerusakan jaringan,zat pirogen atau dehidrasi. Suhu tubuh biasanya memerlukan beberapa jam untuk mencapai suhu baru.Krisis/flush.Bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi dengan mendadak disingkirkan, termostat hipotalamus dengan mendadak berada pada nilai rendah, mungkin malahan kembali ke tingkat normal.(Guyton, 1999).

D. MANIFESTASI KLINIS
tanda dan gejala demam antara lain :
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C – 40 C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri punggung, anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih tinggi dari 37,5 ºC-40ºC, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin, nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala verigo), keletihan, kelemahan, dan berkeringat (Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).

F. PENATALAKSANAAN
1. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau.Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi intelektual tertentu.
a. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
b. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
c. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.
d. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak –banyaknyaMinuman yang diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.
e. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
f. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan).
g. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.
2. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk pemberian antipiretik:

a. Bayi 6 – 12 bulan : ½ – 1 sendok the sirup parasetamol
b. Anak 1 – 6 tahun : ¼ – ½ parasetamol 500 mg atau 1 – 1 ½ sendokteh sirup parasetamol
c. Anak 6 – 12 tahun : ½ 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2 sendok the sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para -aminofenol yang bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d itoleransi dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi dan kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi.Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin.Efek samping hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia aplast ik dan perdara han saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan tidak dianjurkan unt uk anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara per oral, intramuskular atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik.Efek sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak boleh diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.

G. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi : demam ↑penguapan cairan tubuh
2. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak membahayan otak

H. PENGKAJIAN FOKUS
1. Pengkajian
a. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b. Riwayat kesehatan
c. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas.
d. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
e. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
f. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak)
2. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
3. Pemeriksaan persistem
a. Sistem persepsi sensori
b. Sistem persyarafan : kesadaran
c. Sistem pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem integumen
g. Sistem perkemihan
3. Pada fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perseptual
g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran
4. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. foto rontgent
c. USG
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi
2. Resiko defisit volume cairan yang berhubungan dengan intake tidak adekuat dan diaporesis
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan (anoreksia).
4. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
(Carpenito, 2000 & Doengoes, 2000)

A. Intervensi
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi
Tujuan :
Suhu tubuh dalam batas normal (36.5 º ).
Kriteria hasil:
a. Suhu dalam batas normal
b. Bebas dari kedinginan
c. Tidak mengalami komplikasi
Intervensi :
a. Pantau suhu pasien (derajad dan pola),perhatian menggigil/ diaforesis
b. Berikan kompres air hangat untuk merangsang penurunan panas atau demam
c. Kolaborasi memberikan antipiretik
2. Resiko defisit volume cairan yang berhubungan dengan intake tidak adekuat dan diaporesis (Doenges, 2000).
Tujuan :
Defisit volume cairan dapat diatasi.
Kriteria hasil :
Mempertahankan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Intervensi :
a. kaji masukan dan haluaran cairan,
b. kaji tanda- tanda vital pasien,
c. ajarkan pasien pentingnya mempertahankan masukan yang adekuat (sedikitnya 2000 ml / hari, kecualiterdapat kontra indikasi penyakit jantung atau ginjal),
d. kaji tanda dan gejala dini defisit volume cairan (mukosa bibir kering, penurunan berat badan).
e. Timbang berat badan setiap hari.
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Carpenito, 1999).
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
Berat badan normal, nafsu makan ada / bertambah.
Intervensi :
a. timbang berat badan pasien setiap hari
b. jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat beri diet lunak,
c. ajarkan pasien untuk makan sedikit tapi sering,
d. pertahankam kebersihan mulut dengan baik,
e. sajikan makanan dalam bentuk yang menarik
4. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
Tujuan :
cemas hilang
Kriteria hasil :
a. klien dapat mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh
b. klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan
c. klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi, proses penyakit
Intervensi :
a. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi
b. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi
c. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal
d. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit

DAFTAR PPUSTAKA

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC : Jakarta
Sumijati M.E, dkk. 2000. Asuhan Keperawatan Pada Kasus Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Anak.PERKANI : Surabaya
Wahidiyat Iskandar. 1995. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. Info Medika : Jakarta
Doenges, M.E, Marry F. MandAlice, C.G, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis: Mosby Inc.
Lynda juall, Carpenito, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan / Lynda juall Carpenito, Editor Edisi Bahasa Indonesia, Monica Ester (Edisi 8), Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Medika Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC : Jakarta